BKSY: Iuran Rp 80.000,- per Tahun Memberatkan (?)

Pada tgl. 22 Agustus 2015 di aula Paroki Blok B diadakan Temu Rasul BKSY dari 23 Paroki yang sudah melaksanakan BKSY
sebagai sarana umat berbelarasa, berbagi, dan solidaritas antar umat. Dalam diskusi sekurang-kurangnya ada 3 hal yang dirasakan menjadi penghambat penambahan peserta BKSY di Paroki, yaitu:
  1. Kesalahpahaman tentang BKSY sebagai asuransi.
  2. Iuran Rp 80.000,- /tahun dirasakan berat.
  3. Pendaftaran berbasis keluarga dan lingkungan dianggap menyulitkan.
 BKSY: Sekali Lagi Bukan Asuransi
     Lantaran bekerjasama dengan perusahaan Asuransi Central Asia (ACA) dan Asuransi Jiwa Central Asia Raya (CAR); apa lagi bentuk Sertifikat BKSY juga seperti Polis asuransi, maka tidak mengherankan bahwa banyak umat berpikir bahwa BKSY adalah asuransi, seperti asuransi komersial lainnya. Maka pada kesempatan Temu Rasul BKSY ditegaskan lagi bahwa BKSY bukanlah asuransi.

      Apabila ini asuransi, pasti tidak akan semurah dan selonggar itu. Lagi pula, Bapa Uskup pasti tidak akan setuju, jika BKSY adalah produk asuransi yang bertujuan mencari profit. Lalu mengapa melibatkan perusahaan asuransi Central Asia (ACA) dan asuransi jiwa Central Asia Raya (CAR)? Tidak lain untuk membantu agar BKSY bisa berjalan. ACA membangun sistem internet khusus untuk BKSY, dan juga membantu mengelola dana kumpulan iuran peserta secara profesional.
     Apabila BKSY dianggap asuransi, maka tujuan ikut BKSY adalah untuk mendapat untung. Pertanyaannya adalah, “Kalau saya ikut BKSY, benefit buat saya apa donk?
Sebaliknya, kalau BKSY sebagai belarasa dan wujud syukur dalam tindakan nyata membantu sesama, pertanyaannya menjadi:” Dengan menjadi peserta BKSY, apa yang dapat saya berikan kepada orang lain?”
BKSY: Iuran Rp 80.000,– per Tahun Memberatkan (?)
    Dari pengalaman Rasul BKSY, tidak sedikit umat yang merasakan bahwa iuran Rp80.000,- per tahun sungguh memberatkan. Kebutuhan hidup sehari-hari, dan berbagai kegiatan, baik dalam gereja maupun masyarakat, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kini, ditambah iuran BKSY. Apa lagi harus bersama semua anggota keluarga.
   Namun, apabila diperinci lebih jauh lagi, Rp 80.000,- setahun itu setara dengan Rp6.700,- sebulan. Apabila menyisihkan sekeping Rp 500,- per hari, dalam sebulan akan terkumpul Rp 15.000,- Kedengarannya ini terasa lebih ringan dan memungkinkan. Yang penting ada kerelaan dan keikhlasan. Tuhan pasti memberi jalan.
   Meskipun tidak bisa dibandingkan, kalau melihat jasa parkir kendaraan bermotor di pusat-pusat perbelanjaan, yang sudah mencapai Rp 5.000,- per jam, apakah Rp 6.700,- per bulan, masih memberatkan?  
 Pendaftaran Berbasis Keluarga dan Lingkungan: Mengapa?
      Akibat kesalahpahaman BKSY sebagai asuransi, banyak umat lanjut usia, yang sudah rawan penyakit dan dari statistik sudah mendekati tutup usia, didaftarkan. Tentu saja tujuannya agar dengan iuran yang murah mendapatkan untung besar untuk diri sendiri. Bukan untuk berbelarasa dan membantu orang lain.
       BKSY sebagai solidaritas antar umat, pesertanya haruslah semua umat, dari 15 hari s/d menjelang 80 tahun. Untuk itu pendaftaran mesti berbasis keluarga dan lingkungan. Dengan begitu nampaklah aspek belarasa dan solidaritasnya. Apalagi, apabila kita renungkan baik-baik, siapa yang terlebih dahulu berbelarasa jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit? Sudah tentu anggota keluarganya. Atau siapakah yang lebih dulu berbelarasa dan membantu kalau ada anggota lingkungan yang sakit dan meninggal? Sudah tentulah anggota lingkungannya. BKSY sebagai program belarasa yang justru ingin melanggengkan nilai kasih dan saling berbagi yang sudah ada dalam keluarga dan lingkungan. Melalui BKSY, kita semakin menjadi saudara satu sama lain, baik dalam keluarga, komunitas maupun lingkungan.
        Terhadap ketiga permasalahan ini, Uskup KAJ berpesan agar para Rasul BKSY tetap tekun, sabar dan dengan terbuka terhadap bantuan Roh Kudus, terus menjelaskan dan menjelaskan lagi kepada umat, sehingga nilai belarasa dalam program BKSY semakin dipahami dan diwujudkan dalam tindakan konkrit kesediaan membantu sesama.
---------------------------------------------------------------------------------------------
 Ia yang memulai karya baik di antara kita berkenan pula menyelesaikannya.
(Flp 1:16)
 ---------------------------------------------------------------------------------------------

Advertorial Hidup Edisi September 2015
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »