Pada Mulanya Adalah Martir


Mgr Ignatius Suharyo memberikan sambutan di KaKa STAN
Pada kesempatan memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Bersama Ikatan Keluarga Alumni Katolik STAN Jakarta (KaKa STAN) Sabtu (14/01), Mgr. Ignatius Suharyo mengisahkan tentang sejarah perjalanan Gereja Katolik di Indonesia dengan diawali kalimat, “Pada mulaunya adalah martir.”

Sejarah Gereja Katolik di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku. Orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (sekarang di Maluku Utara) yang dibaptis bersama seluruh warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil dari Gonzalo Veloso, seorang saudagar Portugis. Ketika itu para pelaut Portugis baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.

Sejak kedatangan dan kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia tahun 1619 - 1799, akhirnya mengambil alih kekuasaan politik di Indonesia, Gereja Katolik dilarang secara mutlak dan hanya bertahan di beberapa wilayah yang tidak termasuk VOC yaitu Flores dan Timor.

Para penguasa VOC adalah Kristen Protestan sehingga mereka mengusir imam-imam Katolik yang berkebangsaan Portugis dan menggantikan mereka dengan pendeta-pendeta Protestan dari Belanda. Banyak umat Katolik yang kemudian diprotestankan saat itu, seperti yang terjadi dengan komunitas-komunitas Katolik di Amboina.

Imam-imam Katolik diancam hukuman mati, kalau ketahuan berkarya di wilayah kekuasaan VOC. Pada 1624, Pastor Egidius d'Abreu SJ dibunuh di Kastel Batavia pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, karena mengajar agama dan merayakan Misa Kudus di penjara.

Mgr. Suharyo bersama Ketua BKSY dan KaKa STAN
Pastor A. de Rhodes, seorang Yesuit Perancis, pencipta huruf abjad Vietnam, dijatuhi hukuman berupa menyaksikan pembakaran salibnya dan alat-alat ibadat Katolik lainnya di bawah tiang gantungan, tempat dua orang pencuri baru saja digantung, lalu Pastor A. de Rhodes diusir (1646).

Yoanes Kaspas Kratx, seorang Austria, terpaksa meninggalkan Batavia karena usahanya dipersulit oleh pejabat-pejabat VOC, akibat bantuan yang ia berikan kepada beberapa imam Katolik yang singgah di pelabuhan Batavia. Ia pindah ke Makau, masuk Serikat Jesus dan meninggal sebagai seorang martir di Vietnam pada 1737

Selanjutnya, karena perubahan politik di Belanda, khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, kebijakan tentang kebebasan memeluk agama berubah. Ini membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807, pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan dari Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia

Beliau mengisahkan tentang perjalanan para pewarta iman Katolik pertama yang berasal dari Belanda. Mereka yang terdiri dari para biarawan dan biarawati serta awam muda dan tua datang dengan penuh semangat menuju tanah baru “Indonesia”. Perjalanannya tentu saja tidak mudah. Mereka harus naik kapal barang demi mendapatkan ongkos yang murah dan memungkinkan untuk sampai ke tanah baru itu. Jika beruntung, perjalanan itu dapat ditempuh dalam beberapa minggu saja, namun karena seringkali ada badai dan kendala, perjalanan harus ditempuh selama beberapa bulan.

Tentu saja mereka sangat lelah jika dapat sampai di Batavia.  Celakanya, begitu tiba di Batavia, mereka tidak disambut dengan hiruk-pikuk penyambutan, melainkan disambut oleh wabah kolera. “Nah, karena wabah kolera itulah, beberapa pewarta iman Katolik pertama itu meninggal. Jadi, pada mulanya adalah martir,” kata Monsignur.

Oleh karena itu, beliau mengajak umat untuk selalu bertekun di dalam iman dan kesulitan karena sejak awalnya, iman Katolik di Indonesia ini diawali dengan menjadi martir. Demikian juga, jika pada mulanya para penggerak belarasa BKSY mengalami kesulitan, memang demikianlah sejarah sering terulang. “Namun percayalah, ada banyak tangan yang akan membantu niat baik dari saudara sekalian,” tegas Mgr. Ignatius Suharyo.
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »