Budaya Gotong-Royong, Budaya Kita

Budaya Gotong-Royong, Budaya Kita

Salah satu budaya bangsa Indonesia yang kuat adalah gotong royong. Banyak orang  saling tolong menolong dalam mengerjakan satu pekerjaan atau menyelesaikan satu masalah secara bersama-sama. Di masyarakat perkotaan mungkin hal ini sudah semakin luntur, tetapi masih ada. Kita tentu masih ingat aksi-aksi solidaritas, mulai dari Koin Untuk Prita, Sandal Jepit Untuk Briptu AR, dan Singkong Nenek Minah. Peristiwa-peristiwa itu menggambarkan betapa nilai luhur gotong royong masih hidup hingga saat ini.


Di masyarakat pedesaan kita jumpai misalnya bergotong royong mendirikan rumah salah satu warga. Mereka dengan sukarela datang membantu, tanpa upah. Tuan rumah cukup menyediakan makan dan minum seadanya. Ada juga gotong royong membersihkan got saluran air, memperbaiki jalan desa, membuat gapura peringatan Kemerdekaan, dsb. Dalam menghadapi masalah seperti kekeringan, keamanan, wabah penyakit, hama, musibah dan lain-lain, mereka juga berkumpul untuk bersama-sama menemukan solusi. Apabila dipikirkan sendiri mungkin tidak ada jalan keluar. Namun dengan dipikirkan dan diskusikan bersama, mereka bisa menemukan solusi.

BKSY: Gotong-Royong – Harus Banyak Anggota
Kita bisa mendukung pelestarian gotong royong ini dengan menyisihkan Rp 7.000,-/ bulan atau Rp 80.000,- per tahun. Suatu jumlah yang relatif kecil bila dibandingkan dengan ongkos parkir di Jakarta Rp 5.000,-/jam. Dari segi budaya, intisari BKSY adalah gotong royong dan saling tolong menolong antar anggota dalam menghadapi 2 (dua) masalah dalam hidup ini, yaitu biaya rawat inap dan biaya pemakaman. Untuk meringankan beban apabila mengalami masalah tadi, maka mereka mengumpulkan kolekte masing-masing Rp 80.000,- per tahun. Anggota yang dirawat inap di R. Sakit, akan mendapat bantuan Rp 100.000,-/hari, maksimal 90 hari dalam 1 (satu) tahun. Apabila meninggal, ahli warisnya mendapat bantuan Rp 10.000.000,- agar dapat dimakamkan secara layak. Dana bantuan itu  diambil dari dana gotong royong anggota. Kalau iuran per orang Rp 80.000,-, untuk dapat membantu Rp 10.000.000,-  dibutuhkan solidaritas dari 125 orang. Namun karena masih juga dibutuhkan dana untuk bantuan rawat inap, maka dibutuhkan solidaritas dari lebih banyak anggota.

Kunci Keberlangsungan BKSY: Yang Muda Membantu yang Lanjut Usia
Maka, salah satu syarat untuk menjadi peserta BKSY adalah kesediaan atau keinginan untuk bergotong royong, membantu orang lain secara bersama-sama. Karena dana gotong royong dicadangkan untuk membantu anggota apabila sakit, maka saat mendaftar dia harus dalam keadaan sehat. Celakanya, yang terjadi justru mereka yang sakit yang buru-buru didaftarkan. Pada hal solidaritas dari yang muda- muda kepada yang sudah lanjut usia adalah kunci agar BKSY bisa berlanjut untuk jangka panjang, sehingga bisa membantu banyak orang.

Gotong-Royong  atau  Asuransi?
Banyak umat yang menganggap BKSY adalah asuransi murah meriah, penyedia dana rawat inap dan biaya pemakaman, karena bekerjasama (bergotong royong) dengan Asuransi Central Asia. Biasanya tidak ada asuransi jiwa yang menerima peserta usia 60 tahun – 80 tahun, karena usia itu adalah usia rawan penyakit dan meninggal dunia. Ada yang berpikir: Nah ini ada “asuransi BKSY” yang menerima peserta sampai menjelang 80 tahun, tanpa pemeriksaan kesehatan. Preminya hanya Rp 80.000,-per tahun. Supaya untung, marilah kita daftar.kan yang sudah lanjut usia dan sering sakit.  Begitu membayar iuran satu kali Rp 80.000,- akan mendapatkan bantuan 100.000,- per hari apabila dirawat inap, dan Rp 10 juta bila meninggal dunia. Yang dipikirkan adalah keuntungan diri sendiri. Ini tidak salah, namun mental ini tidak sesuai dengan semangat gotong royong BKSY, yaitu solider dan saling menolong. BKSY bukan asuransi, tetapi pelayanan yang dikelola seperti asuransi, agar tertib, transparan dan profesional. Perlu diingat bahwa modal utama BKSY adalah rasa syukur kepada Tuhan dan semangat belarasa, gotong royong para anggotanya.

ACA Membantu Pelaksanaan Gotong Royong 
ACA mau “bergotong royong” membantu BKSY karena memahami spirit dan tujuan BKSY. ACA membantu mekanisme gotong royong, yaitu banyak orang beruntung bersama-sama membantu satu orang yang tidak beruntung. Pimpinan ACA justru mengingatkan bahwa orang beriman yang sudah menerima banyak berkat dari Tuhan, haruslah berbagi berkat itu kepada orang lain. ACA sudah menerima banyak berkat (keuntungan) selama ini. Maka melalui BKSY ACA ingin berbagi berkat juga dengan menyediakan sistem dan mengelola dana gotong royong dari anggota-anggota BKSY. Satu hal lagi yang membuat Pimpinan ACA bersedia mendukung BKSY, yaitu percaya  bahwa Komunitas Katolik, khususnya relawan BKSY akan jujur sehingga tidak akan mendaftarkan orang yang dalam keadaan tidak sehat, tidak akan manipulasi data peserta dan dokumen lainnya.

Gotong-Royong Melalui BKSY: Cara Berbagi Berkat dan Menolong Sesama.
Walaupun mungkin tidak tertulis, setiap warga sebuah desa atau RT wajib ikut bergotong royong. Apabila terpaksa tidak bisa hadir pun titip uang konsumsi. Namun ada juga warga yang ikut bergotong royong sekaligus membantu konsumsi.
Bagi umat yang merasa sudah menerima rahmat dan kebaikan dari Tuhan, wajib mengucap syukur. Tidak hanya dengan berdoa, tetapi dengan berbagi. Salah satu caranya adalah ikut bergotong royong melalui BKSY. Saat menerima pemberian orang saja kita mengucapkan terimakasih. Apalagi menerima berbagai rahmat pemberian dari Tuhan. Bagi umat yang diberi anugerah lebih, Rp 80.000,- sangatlah kecil. Maka selain menyetor iuran buat diri sendiri, dia bisa sekaligus membantu orang lain yang tidak mampu membayar iuran. Karena dia sudah diberi lebih dan ikut BKSY untuk berbagi, bila terjadi klaim, maka dana klaim yang sudah cair bisa juga digunakan untuk membantu orang lain yang  lebih membutuhkan.
Tuhan sudah memberi banyak berkat. Sebagai ucapan syukur, mari kita juga berbagi berkat itu. Tidak usah berpikir macam-macam. Inilah kesempatan dan sarana sederhana untuk berbagi berkat dan menolong sesama, mewujudkan iman dan kasih serta semangat gotong royong: BKSY.


Advertorial Hidup Edisi Agustusi 2015
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »