Renungan Harian Jumat, 3 Februari 2017

[Ibr. 13:1-8; Mzm. 27:1,3,5,8b-9abc; Mrk. 6:14-29]
MENJERNIHKAN HATI SEBELUM MENGUCAP JANJI

Dalam kondisi kehidupan yang tidak stabil, dan serba fleksibel, yang namanya pengendalian diri itu penting. Barangkali, kita juga belajar untuk berkata: “Tidak!” atau “Cukup!” pada hal yang ‘membahayakan’ meski itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Euforia karena kesuksesan atau keberhasilan karena sebuah prestasi, bisa menjadi tidak baik ketika kita menjadi ‘lupa daratan’, dan terlalu lama terbang tinggi di awang-awang. Itu bahaya. Kegembiraan yang tidak terkontrol membuat pikiran menjadi labil, karena tanpa pikir panjang, orang yang terlalu gembira biasanya akan mudah mengumbar janji manis, tanpa berpikir panjang, bahwa dia nanti bisa memenuhi atau tidak. Berbahaya, jika obral janji ini ‘dimanfaatkan’ orang lain untuk mengambil keuntungan. Ketika pikiran kembali jernih, yang muncul adalah penyesalan dan dukacita.

Inilah tragedi yang terjadi pada pesta ulangtahun Herodes. Herodes, malam itu, adalah orang yang paling bergembira, apalagi ada hiburan tarian lemah gemulai dari putri tirinya. Dan, inilah yang terjadi, tanpa pikir panjang, ia mengucapkan sumpah untuk memberikan apa saja yang diminta oleh putri tirinya itu. Benar saja, bahwa sumpah Herodes ini ‘dimanfaatkan’ sungguh oleh Herodias, karena putrinya itu meminta kepala Yohanes di sebuah talam. Permintaan yang tidak main-main, dan membuat hati Herodes menjadi sedih bukan kepalang. Obral janji yang diucapkannya berbuah malapetaka dan tragedi yang terjadi di hari bahagianya.

Kata orang: janji adalah utang! Janji yang terucap harus ditepati. Maka, perlu hati yang tenang dan jernih, agar setiap ucapan dan perkataan membuahkan berkat bukan tragedi dan malapetaka, tidak hanya untuk sendiri tapi untuk orang lain.

Selamat pagi, selamat menjernihkan hati sebelum mengucap janji. GBU

#james5buceng2
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »