Renungan Harian, Minggu, 12 Februari 2017

Minggu, 12 Februari 2017
[Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37]

YEN WANI AJA WEDI-WEDI, YEN WEDI AJA WANI-WANI (KALAU BERANI, JANGAN TAKUT-TAKUT, KALAU TAKUT, JANGAN BERANI-BERANI)

Salah satu tema yang dibahas dalam debat cagub adalah perihal peran perempuan dan korupsi, sampai ada calon yang mengungkapkan tentang: darurat korupsi! Korupsi telah merajalela, dan memasuki semua sisi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hampir sulit untuk menemukan lembaga atau instansi yang sungguh steril dari korupsi.
Korupsi bisa bermula dari sesuatu yang sederhana, bisa lewat kejadian sehari-hari. Korupsi terjadi karena kompromi. Kompromi mengandaikan bahwa seseorang tidak memiliki ketegasan dalam memilih dan berkomitmen terhadap pilihannya. Dan itu terjadi semenjak bangun tidur sampai tidur kembali. Kehidupan sehari-hari selalu menawarkan pilihan baik dan tidak baik, dan setiap orang juga bebas untuk memilih mana yang baik dan benar untuk dirinya. Namun, kadang, ada juga memilih jalur ‘kompromi’, dengan menunjuk yaitu melakukan tindakan yang tidak benar, sedikit dan kecil, toh tidak setiap hari. Padahal berhadapan dengan sesuatu yang tidak benar, kita harus berani tegas, untuk mengatakan tidak. Ya, korupsi, bisa jadi berawal dari sebuah kompromi yang kecil, namun lama kelamaan bisa juga berkompromi pada kejahatan yang besar.

Yesus, dalam kisah Injil hari ini, berbicara tentang peraturan dan hukum Taurat. Dan bahwa kehadiranNya bukan untuk menghilangkan namun untuk menggenapi hukum yang sudah ada. Namun, di akhir Injil menegaskan demikian: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, dan jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat.” Yesus mengajak kita untuk tegas dan teguh pada pendirian, apalagi kalau berkaitan dengan hukum yang datang dari Allah sendiri. Karena, Yesus mengatakan bahwa, ketika kita ‘tergoda’ untuk berkompromi sedikit saja terhadap perbuatan jahat, barangkali inilah jalan masuk dosa ke dalam kehidupan manusia. Maka, pepatah Jawa mengatakan: “Yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani (Kalau berani, jangan takut-takut, kalau takut, jangan berani-berani).” Dengan begitu, kita bisa mengukur kemampuan diri, seraya berani tegas manakala berhadapan dengan godaan-godaan untuk berbuat dosa.
Selamat pagi. Selamat berhari Minggu. Selamat meneguhkan diri dari godaan-godaan dosa. GBU

#james5buceng2
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »