Renungan Harian, Selasa, 21 Februari 2017

Selasa, 21 Februari 2017
[Sir. 2:1-11; Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40; Mrk. 9:30-37]

MALU BERTANYA SESAT DI JALAN

Dari sekian alasan untuk bersukacita dalam perutusan di Jakarta dan Depok ini, salah satunya adalah bisa mengunjungi banyak tempat-tempat baru, yang barangkali tak terbayangkan juga bisa sampai di tempat tersebut. Kalau tidak diutus ke sini, saya mungkin tak pernah mendatangi tempat-tempat semacam Tanjung Priok, Kampung Bandan, Serpong, Ciputat, Bintaro, atau pun Cengkareng. Namun, mendatangi tempat yang baru, bukan berarti sekali jadi. Terkadang perlu
‘riset’ dengan melihat google map, mencari moda transportasi termudah, dan tentu saja, bertanya kepada yang tahu persis letak tempat-tempat tersebut. Ya, tanpa bertanya, maka saya tidak akan mudah sampai ke tempat-tempat tersebut. Bahkan, sudah bertanya sekalipun, ‘ketersesatan’ adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Kata orang: ‘malu bertanya, sesat di jalan.’ Namun, inisiatif untuk bertanya membawa orang pada sebuah titik terang dari tujuan yang hendak dicapai.

Para murid, dalam kisah Injil hari ini, mengambil keputusan yang salah, hanya karena tidak mau bertanya kepada Yesus. Yesus mengatakan tentang penderitaan, namun para murid justru membahas tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Kesimpulan para murid salah besar, dan menyimpang dari maksud Yesus. Dasar kesalahan itu adalah rasa enggan untuk bertanya, sehingga mereke sendiri ‘tersesat’ dalam alur pemikirannya sendiri. Yesus mengajak kita untuk selalu bertanya dan memastikan, sehingga pencarian kita akan kehendak Allah tak pernah sesat. Kita jangan sampai merasa malu pada Allah, karena Dia tahu segala baik-buruk, kelemahan dan keterbatasan kita. Dan percayalah, bahwa Allah lebih mengenal diri kita daripada diri kita sendiri.

Selamat pagi, selamat mencari kehendak Allah dalam hidup hari ini. GBU

#james5buceng2
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »