Renungan Harian, KAMIS PUTIH, 13 April 2017

Kamis, 13 April 2017
KAMIS PUTIH

[Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15]

MENGASIHI SESAMA SAMPAI TAK TERBATAS DAN SAMPAI TUNTAS

Di antara sekian perayaan Kamis Putih, saya akan paling ingat pengalaman asistensi di Kapel Jlegong, Paroki Wonogiri. Stasi di paroki ini lumayan banyak, sehingga kapel ini ‘hanya’ kebagian Ibadat Kamis Putih, karena terbatasnya Romo yang melayani. Saya datang diantar oleh salah satu umat, dan tak dinyana, tempatnya yang sangat terpencil, jalan menanjak dan kapel yang sangat kecil. Umat juga tidak terlalu banyak dan ketika saya datang, sebagian besar umat masih dalam perjalanan, karena mereka jalan kaki ‘turun gunung’. Meski sekedar ibadat, namun saya bisa merasakan suasana yang berbeda, karena justru dalam kesederhanaan perayaan di tempat itu, saya bisa merasakan sungguh kehadiran Tuhan. Belum lagi, setelah Ibadat itu, saya masih bisa sempat makan bersama umat, juga mengunjungi salah satu umat yang sakit. Dan, yang luar biasa, menapaki jalan menanjak menuju Gua Maria Fatima Sendang Klayu. Saya ingat, saat itu sudah maghrib, jalan menanjak sudah gelap, tapi semangat berkobar-kobar, sampai menemukan Bunda Maria di puncak gunung. Setelah berdoa sebentar, pulang turun pelan-pelan, dan akhirnya kembali ke kota Wonogiri. Pengalaman Kamis Putih, yang sederhana, namun mengena dalam hati.

Setiap kali kita merayakan Hari Raya Kamis Putih, kita mengenangkan perjamuan terakhir Yesus dan para muridNya. Dalam kesempatan itu, Yesus menunjukkan sebuah keteladanan, yang tidak hanya berupa perkataan tapi berupa perbuatan. Yesus membasuh kaki para muridNya, dan kemudian meminta para murid juga untuk saling membasuh kaki, supaya terdapat kasih dan pelayanan satu sama lain. Pelayanan Yesus ini dikenang dalam Perayaan Ekaristi, sebagai gambaran bagaimana Dia menunjukkan cinta kasihNya sampai tuntas dengan menyerahkan diri sehabis-habisnya. Kita pun diajarkan untuk berbuat banyak hal. Yang utama tentu saja adalah ketulusan dalam mencintai, karena Yesus sudah mencintai dengan tulus maka diharapkan kita juga melakukan hal yang sama. Selanjutnya, kita diajak untuk saling melayani satu sama lain, karena Yesus telah melayani tanpa pamrih, meski Dia sebenarnya tahu bahwa Yudas telah mengkhianati, namun tak merubah kasihNya kepada semua muridNya. Dan, tentu saja, kita diingatkan tentang Perayaan Ekaristi, yang menjadi perayaan puncak keselamatan. Setiap kali merayakan Ekaristi kita diajak untuk mengenangkan kasih Kristus yang tak terbatas, yang mengasihi kita sampai tuntas. Mari kita juga mengasihi sesama, sampai tak terbatas dan sampai tuntas.

Selamat pagi, selamat meneladan semangat kasih dan pelayanan Kristus. GBU.

#james5buceng2
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »