Renungan Harian, Minggu, 11 Juni 2017

Minggu, 11 Juni 2017
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
[Kel. 34:4b-6,8-9; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; 2Kor. 13:11-13; Yoh. 3:16-18]

KARENA ALLAH TRITUNGGAL BUKAN SOAL LOGIKA, HITUNGAN DAN RUMUSAN KATA-KATA

Saya masih ingat, persis setahun lalu, karena hari Minggu tersebut diperkenankan untuk misa di luar seminari, maka saya misa di gereja kevikepan, dan kebetulan yang misa adalah Romo Vikep sendiri. Saya masing ingat beliau mengawali kotbahnya dengan sebuah cerita begini: “Ada seorang yang sedang dalam perjalanan, dan dia ditanya-tanyai mengenai Allah Tritunggal oleh orang yang berada di sampingnya, hampir selama perjalanan. Namun orang tersebut, dengan enteng menjawab: ‘Kalau anda ingin memahami tentang Allah Tritunggal, mari masuk menjadi Katolik dan bersedia dibaptis. Mari saya tunggu, kapan saya antar ke Romo untuk dibaptis?’” Kesimpulan dari cerita itu mau menyatakan bahwa memahami tentang Allah Tritunggal tidaklah cukup memakai logika pengetahuan, namun sungguh dengan iman, karena Allah Tritunggal adalah misteri, maka memahami tanpa beriman kepada Allah Tritunggal sendiri, adalah sebuah kesia-siaan. Kita tentu sudah sangat familiar dengan penggambaran usaha memahami Allah Tritunggal, oleh St. Agustinus, yaitu seperti anak kecil yang berusaha memindahkan air laut ke sebuah lubang yang sangat kecil. Tentu mustahil. Penggambaran ini juga hendak menggambarkan bahwa pengetahuan kita sangat kecil dan terbatas untuk bisa memahami misteri Allah Tritunggal yang sedemikian besar dan agung.

Hari Minggu ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, dan jangan pernah menggambarkan Allah Tritunggal sebagai hitung-hitungan matematika dan logika, karena kita akan kecewa dan tentu saja ini sebuah kesalahan besar. Allah adalah Mahabesar, dengan segala sifatnya, tak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan St. Agustinus pernah mengatakan bahwa, “Kalau engkau memahamiNya, Ia bukanlah Allah.” Maka, di sinilah pernah iman, melebihi segala logika, perhitungan dan kata-kata, karena konsep manusiawi tak pernah mencukupi untuk menggambarkan itu semua. Maka, ajaran tentang Allah Tritunggal hanya dapat kita terima dengan iman, bukan dengan sekedar sebuah pengetahuan. Maka, di cerita di awal yang diceritakan sebagai pembuka kotbah Romo Vikep, hendak menegaskan bahwa tanpa menjadi Katolik, dan menerima Allah Tritunggal sebagai bagian dari hidup beriman, semuanya adalah sia-sia kalau dijelaskan dengan kata-kata. Maka, cukuplah kalau kita sebagai umat Katolik yang dengan segala iman, memahami Bapa sebagai Pencipta, Putera sebagai pelaksana karya Allah dan Roh Kudus yang senantiasa mendampingi gereja sampai sekarang, dalam peziarah hidup menuju kehidupan kekal dan abadi bersama Allah. Maka, yang terpenting sekarang, kita wujudkan iman itu dalam rasa syukur yang mendalam karena Bapa, Putera dan Roh Kudus selalu menyertai hidup kita dengan kasihNya yang luar biasa.

Selamat pagi, selamat beriman kepada Allah Tritunggal. GBU.


#james5buceng2
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »