Renungan Harian, Minggu, 2 Juli 2017

Minggu, 2 Juli 2017
Hari Minggu Biasa XIII
[2Raj. 4:8-11,14-16a; Mzm. 89:2-3,16-17,18-19; Rm. 6:3-4,8-11; Mat. 10:37-42]

*PERUBAHAN HIDUP MENUNTUT PENYERAHAN DIRI SEUTUHNYA*

Seharian kemarin, saya memperoleh kesempatan untuk ziarah ke Lembah Karmel Cikanyere bersama rekan-rekan muda. Di antara mereka, ada salah satu yang bulan depan akan melepas masa lajang dan menikahi gadis pujaannya. Meski tidak bercerita secara langsung, namun saya bisa menangkap 'kegelisahan' sekaligus pergulatan tentang 'perubahan' hidup. Saya sempat bertanya demikian: "Besok kalau sudah menikah, apakah tetap jadi satu dengan keluarga atau menempati rumah tersendiri?" Dan jawabnya adalah: "Ya menempati rumah sendiri." Jawaban ini kelihatannya mudah, namun pasti hasil dari pertimbangan masak dan melibatkan banyak pihak. Kita hidup dalam kultur dan budaya bahwa keluarga (besar) adalah bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan, maka setiap kali hendak memutuskan untuk menikah, itu berarti ada sebuah sikap dan cara hidup yang baru, yang akan diambil. Setiap pilihan mengandung konsekuensi dan resiko, maka pada dasarnya, keputusan untuk memulai atau mengadakan perubahan hidup, selalu ditandai dengan adanya kemungkinan-kemungkinan baru, yang tak pernah kita duga dan terprediksi. Dan ini, ada dalam setiap pilihan hidup, tidak hanya ketika kita memutuskan untuk menikah dan membangun rumah tangga saja. Namun, meninggalkan keluarga, membangun cara hidup yang baru, dan mungkin akan hidup berjauhan dengan keluarga terdekat, bukan berarti sebuah kerugian, namun bahkan akan muncul pengalaman-pengalaman dan mungkin, cara hidup yang lebih baik.

Kalau kita mendengarkan bacaan-bacaan yang diperdengarkan hari ini, kita akan mendengar bahwa Yesus menawarkan sebuah cara hidup yang baru. Namun, cara hidup baru yang ditawarkan Yesus ini, tidak lalu membuat hidup kita semakin nyaman dan nikmat, namun justru penuh resiko dan cobaan. Yesus bersabda: "Barangsiapa mempertahankanya nyawanya, ia akan kehilangan. Dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena aku, ia akan mendapatkan." Ketika mengutus kedua belas rasul untuk mewartakan kabar gembira, Yesus meminta mereka untuk mengasihi Dia lebih dari apapun, bahkan termasuk orang tua dan anak-anak. Namun, Yesus menjanjikan 'hidup baru' yang kekal abadi selamanya. Mengikuti Yesus, berarti dua hal, yaitu kepastian dan ketidakpastian. Pasti karena kita bersama Yesus, dan tidak pasti karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi hari ini, esok dan seterusnya. Namun, inilah keindahan mengikuti Yesus, bahwa berhadapan dengan semuanya, kita diminta untuk tetap berani mengambil resiko, dan berkomitmen atas semua pilihan hidup kita.

Pada akhirnya, kita tidak perlu kemana-mana, dan tidak perlu jauh-jauh untuk memperoleh 'hidup baru' yang dijanjikan Yesus tersebut. Kalau kita selalu komitmen dalam tugas dan pelayanan, tidak mengharapkan apa-apa atau pamrih dari setiap pemberian diri kita, sesungguhnya kita telah memperoleh banyak daripada apa yang sudah kita berikan dan lepaskan. Semua itu menjadi mungkin, karena begitu besar kasih Tuhan kepada kita, karena kasihNya tidak tergantung dari kuantitas dan seberapa banyak pelayanan-pelayanan kita, tetapi semua pelayanan-pelayanan kita akan menjadi bermakna ketika kita mau menyerahkan diri sepenuhnya untuk melakukan pelayanan-pelayanan tersebut. Semoga setiap kehilangan yang kita rasakan, meninggalkan sebuah ruang, yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Tuhan sendiri.

Selamat pagi, selamat berhari Minggu. Tuhan memberkati. GBU.
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »