Karena Hati Adalah Mata yang Tidak Pernah Tertutup

oleh Th Wiryawan




Biografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bio yang berarti hidup, dan graphien yang berarti tulis. Jadi, biografi pada dasarnya adalah tulisan atau kisah riwayat hidup seseorang. Dalam biografilah, kita sesungguhnya mendapatkan pengalaman hidup yang paling akrab, yaitu manusia yang berpikir dan bertindak, yang kecewa dan bahagia, yang sedih dan gembira. Dalam biografi, kita tidak hanya berhadapan dengan dunia yang objektif tetapi lebih dimungkinkan untuk menangkap dan memahami dunia subjektif  sebagaimana dilihat, dirasakan, dan dibangun oleh pelaku. Inilah yang saya rasakan saat membaca biografi Bapak Uskup Suharyo. Melalui biografi inilah saya mengenal beliau lebih baik lagi, lebih holistik, lebih memahami arah misionernya dan sangat kuat sisi humanisnya terutama kepeduliannya pada masyarakat yang tersisih dan menderita.



Buku ini hadir menandai 20 tahun pelayanan  Mgr Suharyo sebagai  Uskup. Lipatan cover buku ini memuat ungkapan Mgr Suharyo, “Saya membaca satu karangan yang ditulis Kardinal Basil Hume OSB. Salah satu bagiannya itu melegakan saya karena beliau menulis bahwa menjadi uskup itu tidak sulit. Mengapa? ‘Modalnya hanya tiga kata: baik, terima kasih, lanjutkan. Kata-kata itu  menghibur tetapi juga menantang karena di balik rangkaian tiga kata itu diandaikan satu  pribadi yang matang dan dewasa.’ Kata-kata tersebut dirasakan membantu menguatkannya dalam menjalani tugas sebagai seorang uskup.” Selanjutnya, ketiga kata itu menjadi judul buku biografi ini : Terima Kasih , Baik , Lanjutkan !

Kata BAIK: Saat seseorang mengatakan baik, hal itu sebenarnya adalah ungkapan imannya bahwa apa yang dikerjakan orang lain, siapa pun orang itu, dia telah mengerjakannya sesuai dengan rencana Tuhan. Rencana tersebut adalah memberikan kedamaian dan kesejahteraan.

Kata TERIMA KASIH: Menurut Mgr Suharyo, merupakan ungkapan pengakuan bahwa manusia tidak mungkin hidup dan bekerja sendiri. Manusia membutuhkan bantuan dalam bekerja sebab dengan bekerja bersama-sama banyak hal besar bisa tercapai.

Kata LANJUTKAN : Merupakan ajakan untuk bersama-sama melanjutkan karya-karya baik sebelumnya. Lanjutkan juga berarti pengakuan bahwa Tuhan juga berkarya lewat sesama. Lanjutkan juga adalah ajakan untuk bersama-sama menghadapi segala macam tantangan hidup.

Buku ini terdiri dari delapan bab. Khusus bab 7 terasa sekali bahwa Mgr Suharyo mengembangkan imannya  dalam ranah kehidupan masyarakat. Dari surat gembala, dari berbagai aktivitas tampak bahwa Mgr Suharyo membawa gereja Katolik tidak sekadar asyik ke dalam lingkungan gereja tetapi keinginan keluar menjadi  gerakan yang hidup. Beliau mengatakan, “Kalau orang kristiani berhimpun dengan inspirasi iman untuk bersama sama berusaha memberdayakan masyarakat yang tersisih itulah Gereja. Kalau orang kristiani berhimpun dengan inspirasi iman untuk mengusahakan tersedianya air bersih, itulah Gereja - bukan pertama-tama Gereja yang organisatoris rapi, melainkan Gereja yang hidup. Sebagai warga Jakarta, saya sungguh merasakan bahwa Gereja diterjemahkan sebagai keterlibatan dan kepedulian kepada sesama manusia. Intinya, Gereja adalah komunitas Pengharapan. Mgr Suharyo menegaskan Pancasila menjadi dasar pada setiap kebijakan dan pewartaan. Dari sana lahirlah berbagai gerakan seperti  Rosario Merah Putih dengan spirit 100% Katolik dan 100% Indonesia. Spirit ini diterjemahkan ke dalam  Arah Dasar KAJ: Semakin Beriman, semakin Bersaudara, semakin berbela rasa. Salah satu produknya adalah Berkhat Santo Yusup  yang menjadi gerakan kepedulian dalam hal kesehatan dan kematian.

Buku ini bukan sekadar buku biografi tetapi menjadi jendela wajah gereja Katolik ke depan khususnya di Jakarta. Istilah pastoral dianggap lebih memperhatikan ke dalam urusan gereja dan kurang melihat keluar. Kata yang dipilih Mgr Suharyo adalah evangelisasi atau misioner yang mengandung nuansa ke luar. Jangan asyik dengan urusan internal semata.

Salah satu bidang yang akan dikembangkan adalah advokasi. Misalnya dalam konteks sosial ekonomi. Gereja diajak bersikap jelas  dan cerdas dalam beradvokasi terhadap orang-orang yang terpinggirkan dan miskin. Gereja harus ikut berjuang untuk memastikan bahwa pemerintah menjalankan fungsi dengan sebaik-baiknya dalam membangun masyarakat yang adil.

Membaca buku ini bagaikan membaca ajakan untuk bertindak secara konkret. Sebuah ajakan yang membanggakan bagi setiap orang yang mengaku  Katolik.

Apa yang saya  rasakan saat membaca buku ini? Saya teringat sebuah pertanyaan: Mengapa kita sering menutup mata ketika BERDOA? Ketika MENANGIS?  Karena hal yang terindah bukanlah melihat dengan mata, tetapi merasakannya dengan Hati, karena Hati adalah mata yang tidak pernah tertutup. Karena itu, apa yang kita lakukan dalam hidup dengan hati yang tulus dan kita akan merasakan keindahannya. Itulah yang saya rasakan saat membaca buku biografi  Mgr Suharyo. Saya sungguh merasakan keindahannya berkat kehebatan dua penulis buku ini: Mas St. Sularto dan Mas Trias Kuncahyono. Buku ini lahir atas dorongan dari Paguyuban Lingkaran Sahabat ( PaLingSah) Mgr Suharyo. Mereka adalah teman sekelas atau murid Mgr Suharyo yang bersama-sama mengembangkan kepedulian dalam tindakan nyata.


Membaca buku biografi tokoh-tokoh yang sudah pensiun hanya enak dibaca tetapi sukar diharapkan menghasilkan perubahan. Hanya sekadar harapan. Berbeda bila kita membaca biografi tokoh yang masih menjabat seperti Buku biografi Mgr Suharyo. Akan  terasa sebagai ajakan konkret untuk menghasilkan sebuah perubahan.



Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »