Menjadi "Orang Samaria" Zaman Sekarang

Kita dipanggil untuk menjadi “orang Samaria” zaman sekarang tanpa melihat latar belakang orang yang kita bantu. Itulah semangat solidaritas dan bela rasa.

Th. Wiryawan  [HIDUP/Yusti H.Wuarmanuk]

Betapa tidak mudah menerjemahkan “bela rasa” dalam kehidupan konret. Sangat susah di zaman ini gerakan-gerakan bela rasa bisa diterima. Banyak orang menolong tetapi masih mengharapkan balasan baik soal hak pun kewajiban. BerKHat Santo Yusuf (BKSY) berkarya dengan tantangan zaman ini. Zaman ini, orang perlu belajar dari “orang Samaria” yang baik hati. Ia membantu tanpa melihat sekat-sekat. Nilai ini juga disampaikan, dalam wawancara HIDUP dengan penggiat BKSY KAJ, Th. Wiryawan, berikut petikannya:  

Mengapa ada BKSY sementara Gereja menawarkan ragam kegiatan karitatif?

BKSY bukan sekadar tindakan karitatif. Saya tidak mengatakan tindakan karitatif itu tidak boleh. Saya melihat tindakan karitatif itu hanya berangkat dari empati seseorang atau kelompok. BKSY mau lebih jauh dari itu, yaitu terlibat membentuk diri seseorang. Maka yang dibutuhkan adalah seorang harus terlibat. Mau berapa pun, yang penting kamu terlibat berbelarasa.
Hal lain adalah perlu ada sistem. Jadi BKSY itu berangkat dari kesadaran untuk berbela rasa, maka harus didukung dengan sistem yang akuntabel. BKSY lebih jauh dari sekadar tindakan karitatif, karena kalau karitatif itu membuat orang tinggal menunggu untuk dibantu. Lebih jelek, orang berpikir daripada digangguin terus, maka lebih baik menyumbang saja. Sisi solidaritas dan bela rasa seakan hilang. Di BKSY orang butuh partisipasi dan ada sistem yang membangun misal soal database, keuangan dan sebagainya.

Apakah sistem ini yang mengharuskan BKSY menggunakan pihak ketiga dalam pengelolaannya?

Sistem itu mengandaikan tidak lagi tergantung pada individu. Kami berpikir kalau mau BKSY umur panjang, maka dibangun sistem. Itulah yang membuat adanya pihak ketiga yang mengelolahnya. Tujuannya adanya partner kerja ini supaya menghindari manajemen risiko.
BKSY berharap pengelolaan uang umat itu secara profesional. Terkait hal ini kami sudah mencari partner seperti asuransi-asuransi, tetapi banyak yang menolak karena soal hitung-hitungan lebih banyak rugi. Karena memang BKSY bukan orientasinya bisnis.

Ada corporate accountability tetapi kenapa bisa minus?

Benar ada kerugian, dan bagi saya itu karena isu komunikasi. Mengapa? Karena banyak orang tidak memahami apa pesan dari gerakan ini. Banyak anak yang produktif seperti orang muda, bukannya mendaftarkan diri mereka, malah mendaftarkan orang tua yang sakit-sakitan dan sebentar lagi meninggal. Jadinya beberapa bulan jadi peserta langsung meninggal dan minta iuran mereka.

Tidak ada unsur bela rasa dalam kasus-kasus sepert ini. Karena itu ke depan kami mengubah sistem. Dengan memakai sistem keluarga, di mana semua anggota bisa terlibat.

BKSY tentu tak ingin rugi terus. Apa yang akan dibuat?

Dalam pengalaman selama lima tahun ini kami terus memperbaiki dan mencari bentuk serta mematangkan ide-ide. BKSY terus berproses dan belajar terus menerus. Kita akan rugi, tetapi mencari masalahnya di mana dan perbaiki satu per satu. Maka jangan hanya mengirimkan orangtua saja, tetapi anak-anak juga disertakan. Kalau orangtua saja itu namanya hanya mencari untung rugi, bukan lagi semangat bela rasa. Berikut yang kami buat, adalah terus memperbaiki sistem dan perlu konsistensi dengan ide-ide kreatif, misalnya seperti yang dibuat pending coffe.

Apa dasar Anda mau terlibat dan berbelarasa?

Bagi saya iman tanpa perbuatan itu mati. Iman itu harus terwujud dalam kasih kepada sesama. Tentu meneladani kasih dengan berpatokan kepada Allah di surga. Belajar dari teladan orang Samaria yang baik hati yang memberi dengan ikhlas kepada orang yang tidak dikenal tetapi menjadi saudaranya. Panggilan inilah yang menggerakan hati saya untuk terpanggil mau melayani sesama.



Source : Yusti H. Wuarmanuk - HIDUP NO.01 2019, 6 Januari 2019


Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »