Paus Fransiskus : “Ketidakpedulian berlawanan dengan kasih Allah.”

Dalam homilinya pada Misa di Casa Santa Marta, Selasa (8/1/2019), Paus Fransiskus berkata bahwa Tuhan mengambil langkah pertama terhadap kita dan mengasihi kita karena Dia berbela rasa dan berbelas kasih, sekalipun kita tidak peduli.

Paus Fransiskus mempersembahkan Misa Selasa kemarin untuk istirahat kekal Uskup Agung George Zur, yang meninggal pada Senin malam. Uskup George tinggal di Casa Santa Marta bersama Paus dan pernah menjabat sebagai Nunsius Apostolik untuk Austria.

Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus merenungkan Injil hari itu (Mrk 6: 34-44) tentang penggandaan roti dan ikan, dan Bacaan Pertama, yang diambil dari Surat Pertama Yohanes (4:7-10).


Tuhan mengasihi kita terlebih dulu

Bapa Suci menyampaikan bahwa rasul Yohanes menjelaskan “bagaimana Allah menyatakan kasih-Nya pada kita.” “Marilah kita saling mengasihi, karena kasih itu berasal dari Allah,” tulis Yohanes.

Paus Fransiskus menyebut hal ini sebagai misteri kasih: “Allah mengasihi kita terlebih dahulu. Dia mengambil langkah pertama, “Allah mengasihi kita,” katanya, bahkan meskipun kita “tidak tahu bagaimana cara mengasihi” dan “membutuhkan belaian Allah untuk mengasihi. ”

“Langkah pertama yang diambil Allah adalah Putra-Nya. Dia mengutus-Nya untuk menyelamatkan dan memberi makna bagi hidup kita dan untuk memperbarui serta menciptakan kita kembali.”


Yesus berbela rasa kepada orang banyak

Dengan merenungkan penggandaan roti dan ikan, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa Yesus memberi makan orang banyak karena Dia berbela rasa.

Hati Allah, Yesus, tergerak ketika Dia melihat orang banyak ini, dan Dia tidak bisa tetap tidak peduli. Kasih itu membuat gelisah. Kasih tidak membiarkan ketidakpedulian; kasih itu berbela rasa. Tetapi, kasih berarti meletakkan hatimu pada orang lain; itu berarti [menunjukkan] belas kasihan.”


Kamu harus memberi mereka makan

Kemudian Uskup Roma ini menjelaskan adegan ketika para murid pergi mencari makanan. Dia mengatakan bahwa Yesus mengajar para murid dan orang banyak tentang banyak hal, tetapi mereka menjadi bosan, “karena Yesus selalu mengatakan berbagai hal yang sama.”

Ketika Yesus mengajarkan “dengan kasih dan bela rasa,” mereka mulai “berbicara di antara mereka sendiri.” Mereka mulai memeriksa jam mereka, dengan mengatakan, “Sudah mulai malam.”

Bapa Suci, kemudian mengutip Markus: “Tetapi Guru, tempat ini sunyi dan hari sudah malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”

Paus menjelaskan kutipan ini bahwa pada dasarnya para murid mengharapkan agar orang banyak itu mencarinya sendiri. “Tetapi kita dapat yakin,” katanya, “bahwa mereka pasti memiliki cukup roti untuk diri mereka sendiri, dan mereka ingin menyimpannya. Ini adalah ketidakpedulian. ”

“Para murid tidak tertarik pada orang banyak. Yesus tertarik karena Dia memperhatikan mereka. Para murid tidak jahat, hanya tidak peduli. Mereka tidak tahu apa artinya mengasihi. Mereka tidak tahu bagaimana menunjukkan bela rasa. Mereka tidak tahu apa itu ketidakpedulian,” jelas Paus.

Selanjutnya dikatakannya, “Mereka telah berdosa, mengkhianati sang Guru, dan meninggalkan-Nya supaya memahami inti bela rasa dan belas kasihan. Dan tanggapan Yesus sangat mendalam: ‘Kamu harus memberi mereka makan.’ Ambillah keadaan mereka menjadi keadaan kalian sendiri. Inilah pergulatan antara bela rasa Yesus dan ketidakpedulian, yang selalu diulang sepanjang sejarah. Banyak orang yang baik, tetapi tidak memahami kebutuhan orang lain, tidak mampu berbela rasa. Mereka adalah orang-orang baik,  tetapi mungkin kasih Tuhan belum masuk ke dalam hati mereka atau mereka belum membiarkan-Nya masuk.”


Perempuan tunawisma di Roma

Bapa Suci kemudian menjelaskan foto yang digantung di dinding Kantor Badan Amal Kepausan. Dia menyampaikan bahwa itu adalah foto yang diambil oleh seorang laki-laki lokal yang memberikannya kepada Almoner Kepausan, Daniel Garofani, sekarang menjadi seorang fotografer untuk Osservatore Romano, mengambil foto setelah membagikan makanan dengan Kardinal Krajewski kepada para tunawisma.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa foto itu menunjukkan orang-orang berpakaian bagus yang meninggalkan sebuah restoran di Roma ketika seorang wanita tunawisma mengangkat tangannya untuk meminta sedekah. Dia mengatakan gambar itu diambil “ketika orang-orang memalingkan muka sehingga pandangan mereka tidak akan bertemu” dengan pandangan wanita gelandangan itu. Ini, kata Paus, “adalah budaya ketidakpedulian. Itulah yang dilakukan oleh para Rasul. ”


Ketidakpedulian berlawanan dengan kasih

Paus Fransiskus mengatakan bahwa kasih Allah selalu datang terlebih dulu dan penuh bela rasa dan belas kasih. Dia menjelaskan memang benar bahwa lawan dari kasih adalah kebencian, tetapi banyak orang tidak menyadari “kebencian yang disadari.”

Lanjut Paus, “Kebalikan yang lebih umum dari kasih Allah –bela rasa Tuhan– adalah ketidakpedulian. ‘Saya puas; Saya tidak kekurangan apa pun. Saya memiliki segalanya. Saya sudah terjamin tempat saya dalam kehidupan ini dan selanjutnya, karena saya pergi Misa setiap hari Minggu. Saya seorang Kristen yang baik. Tapi ketika meninggalkan restoran, saya melihat ke arah lain.’”

“Mari kita renungkan ini: Berhadapan dengan Allah yang mengambil langkah pertama, yang berbela rasa, dan penuh belas kasihan, sering kali sikap kita tidak peduli. Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Dia menyembuhkan umat manusia, mulai dari diri kita. Semoga hati saya disembuhkan dari penyakit budaya ketidakpedulian,” demikian Paus memungkasi homilinya.


Sumber : https://www.dokpenkwi.org/2019/01/09/paus-fransiskus-pada-misa-di-casa-santa-marta-ketidakpedulian-berlawanan-dengan-kasih-allah/
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »