Renungan Paskah : Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat



Suatu hari seorang pemuda datang ke sebuah kampung. Penduduk kampung itu sudah lama tidak bahagia karena berbagai perselisihan. Ia mengetuk pintu sebuah rumah. Kepada ibu yang membukakan pintu, ia meminta makan. ”Anak muda, maafkan, persediaan makanan di rumah sudah habis,” jawab si Ibu.

”Tak apa, Bu. Saya punya batu ajaib untuk membuat masakan lezat bagi semua orang. Cukup sediakan panci, air, api, dan mengundang penduduk kampung,” kata pemuda itu. Setelah semua datang, ia mulai mengaduk-aduk air dalam panci, mencicipinya, dan berkata, ”Masakan ini enak, lebih enak kalau ada sayurnya.”

Beberapa orang menjawab, ”Oh, di rumah saya ada sayur.” Mereka pulang dan kembali membawa sayur.

Orang muda itu mengaduk-aduk lagi dan berkata, ”Masakan sudah lebih lezat. Akan sempurna kalau ada daging dan bumbu.” Beberapa orang pulang mengambil daging dan bumbu. Orang itu berkata lagi, ”Masakan sudah siap, tetapi tidak ada piring. Ambillah piring, tetapi jangan kembali dengan piring kosong.”

Semua pulang dan kembali dengan piring penuh aneka buah. Mereka pun makan bersama dalam suasana gembira. Salah seorang berkata, ”Belum pernah kita merasakan kebahagiaan karena kebersamaan seperti ini.” Penduduk kampung itu mengalami transformasi kehidupan. Dalam bahasa Kristiani, itulah Paskah.

Hidup baru

Salah satu lambang paling penting dalam upacara Paskah adalah lilin Paskah. Saat semua lampu dimatikan, di pintu depan gereja ada upacara menyalakan lilin Paskah dengan api baru, lambang hidup baru.

Sambil diarak masuk, nyala lilin Paskah dibagikan kepada seluruh umat dan lambang hidup baru pun ditularkan. Gereja yang semula gelap semakin terang oleh nyala lilin. Dalam cahaya lilin, umat menyanyikan lagu pujian Paskah dan mendengarkan kisah karya penyelamatan Allah.

Karya Allah yang amat menentukan bagi umat Allah dalam Perjanjian Lama adalah pembebasan dari tanah penjajahan Mesir (Keluaran 12). Peristiwa ini akan terus dikenang dan dihidupkan kembali—tidak sekadar diingat—sebagai peristiwa yang selalu aktual. Kenangan bersama ini menjadi kekuatan dahsyat umat Allah Perjanjian Lama dalam mempertahankan eksistensi dan kesatuan mereka dalam berbagai tantangan.

Paskah Perjanjian Lama tak bisa dipisahkan dari perjanjian yang diikat di Sinai (Keluaran 19-20). Dalam perjanjian itu diberikan Sepuluh Perintah Allah, kode moral dan hukum yang harus mereka taati untuk menjadi pribadi-pribadi berhikmat dan umat bermartabat. Namun, dalam perjalanan waktu, ternyata mereka mengingkari jati diri mereka dan mengikatkan diri kepada berhala. Mereka menjadi bebal.

Akhlak mulia

Paskah Kristiani berkaitan dengan perbudakan manusia oleh dosa. Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk yang harus berbakti kepada Sang Khalik  dan berakhlak mulia. Kepada manusia diberikan Hukum Kasih sebagai perintah utama. Perintah itu cermin pribadi Yesus yang mencurahkan kasih sampai mati dan bangkit untuk keselamatan orang yang percaya kepada-Nya.

Sesudah mengalami keselamatan seharusnya manusia menjadi pribadi berhikmat dan umat bermartabat. Orang yang percaya mesti mengenakan hidup baru berlandaskan kasih dan meninggalkan cara hidup manusia lama (bandingkan: Roma 6:4-6). Namun, manusia terus tergoda menyembah berhala dan mengingkari jati dirinya.

Berhala bukanlah batu besar atau pohon, melainkan keserakahan (Efesus 5:5). Penyembah berhala adalah orang-orang serakah yang moralitas serta tata nilainya terjungkir balik. Dia membiarkan hidupnya didorong oleh nafsu akan gengsi, kekuasaan, dan uang.

Berhala lebih besar lagi pada zaman modern ini adalah keserakahan yang didukung oleh kekuatan  yang menghalalkan segala cara, seperti kebohongan, ujaran kebencian, fitnah, hoaks, untuk merebut yang diinginkan. Tata nilai semakin terjungkir balik, terjadi kemerosotan moral berujung krisis.

Merayakan Paskah  adalah menerima dan membagikan terang iman dan menjadikannya bermakna dalam kehidupan nyata, sebagaimana dilambangkan lilin Paskah.  Dalam kacamata iman Kristiani, sejarah bangsa Indonesia adalah juga peristiwa Paskah yang berlanjut.

Keyakinan itu ada dalam salah satu doa yang amat penting dalam Gereja Katolik: ”Sepanjang sejarah, Engkau mencurahkan kasih sayang yang besar kepada bangsa kami. Berkat jasa banyak pahlawan, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa. Kami bersyukur kepada-Mu atas bahasa yang mempersatukan dan atas Pancasila dasar kemerdekaan kami” (Prefasi Tanah Air II).

Doa itu mengajak umat untuk terus merawat ingatan bersama akan peristiwa-peristiwa yang menentukan dalam sejarah bangsa Indonesia: Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dasar NKRI, sebagai karya agung Allah. Peristiwa-peristiwa tersebut, menurut keyakinan Kristiani, adalah Paskah yang membebaskan.

Semoga Presiden dan Wakil Presiden, para legislator, serta semua pemimpin negara dan bangsa Indonesia tulus berusaha membawa bangsa Indonesia mencapai cita-cita kemerdekaan, menjadikan seluruh warga semakin berhikmat, dan bangsa semakin bermartabat. Itulah Paskah.

I Suharyo Uskup Agung Jakarta 

Sumber : 
photo : dokpenKWI
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »