Belarasa, Wujud Nyata Gereja yang Hidup.


Belarasa mengalir dari Allah sendiri. Belarasa bersama kaum miskin mendapat dasar yang paling utama dari belarasa Allah sendiri. Allah telah berbelarasa terlebih dahulu. Tiga perumpamaan dalam Lukas 15, yakni perumpaan domba yang hilang (Luk 15:1-7), perumpaan dirham yang hilang (Luk 15:8-10), dan perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32) menggambarkan belarasa Allah yang sungguh luar biasa bagi mereka yang tak punya arti. Allah rela 'repot-repot' berbelarasa supaya tidak ada satu pun manusia yang begitu dikasihiNya hilang atau hidup dalam penderitaan. Dari pihak Allah belarasa berarti tindakan,  bukan omdo alias omong doang atau nato, no action talk only. Puncak belarasa Allah kepada manusia diwujudkan dengan merelakan putraNya sendiri menjadi tebusan bagi keselamatan umat manusia dari kuasa dosa. Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi tanda totalitas belarasa Allah.

Yesus Kristus yang Berbelarasa. Yesus tidak hanya mengajar tentang belarasa, namun dia menghidupi belarasa itu. Dia hidup bersama orang-orang pinggiran dan dipinggirkan seperti orang sakit, pemungut cukai, pelacur, kaum Samaria. Totalitas belarasa itu diwujudkan Yesus dengan menyerahkan hidupNya sendiri sampai puncak  kayu salib. Totalitas belarasa itu pula yang menghantar Yesus sampai pada kebangkitan dari kematian. Kebangkitan berarti Allah berpihak pada Yesus, bukan pada 'lawan-lawan' Yesus yang menyalibkanNya. Allah membangkitkan Yesus berarti Allah merestui, mengamini seluruh sabda, ajaran, dan hidup Yesus yang berbelarasa bersama kaum kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Belarasa menjadi jalan kebangkitan Yesus Kristus. Totalitas belarasa Yesus didasarkan pada Abba experience. Pengalaman kedekatan dan kesatuan Yesus dengan Bapa menggerakan Yesus untuk berbelarasa secara total. Pengalaman akan totalitas belarasa Allah menjadi daya gerak totalitas belarasa Yesus. 

Gereja dipanggil untuk berbelarasa. Jatidiri Gereja akan sungguh legitimate hanya jika mengambil bagian dalam hidup Yesus yang berbelarasa. Yesus mewujudkan kekristusannya dengan menenggelamkan diri ke kancah kehidupan real manusia, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin dan tertindas. Dengan spiritualitas kenosis (pengosongan diri) itu pula Gereja dipanggil untuk mewujudkan jatidirinya sebagai gereja yang berbelarasa. Gereja diutus untuk hadir dan terlibat dalam jerih-payah hidup manusia saat ini dengan berbagai duka dan kegembiraan, harapan dan kecemasannya menuju masa depan yang paripurna.

Pengalaman perjumpaan dengan Kristus menjadi dasar Gereja yang berbelarasa. Kesediaan berbelarasa mengandaikan pengalaman perjumpaan dengan Yesus Kristus. Passion for humanity hanya mungkin tumbuh kalau ada passion for Christ. Belarasa bersama sesama yang miskin hanya mungkin ada kalau orang terlibat dalam belarasa bersama Kristus. Belarasa pria Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) hanya mungkin diwujudnyatakan kalau didahului pengalaman perjumpaan dengan Kristus seperti yang dialami oleh perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh 4:5-42). Perjumpaan pribadi perempuan Samaria dengan Yesus Kristus menghantar perempuan Samaria pada pertobatan sejati yang menggerakan dirinya untuk berbagi pengalaman keselamatan dengan sesamanya. 



Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »