Kepekaan Untuk Berbelarasa

Gereja mengajak kita untuk menampilkan wajah sosial gereja. Gereja yang bukan hanya menampilkan ibadat yang indah, liturgi yang meriah tetapi juga Gereja yang punya hati terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat maupun di lingkungan kegerejaan. Panggilan hidup menggereja bukan hanya berhenti pada doa dan ibadah tetapi juga harus nyata dalam aksi yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang ditimba dari doa dan ibadah kita.
Karena itu St. Yakobus mengatakan bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17).
Berbelarasa kepada sesama bukan faktor bawaan yang ada dalam diri seseorang. Perlu upaya penyadaran untuk mau terbuka dan tersentuh oleh kebutuhan sesama yang memerlukan bantuan kita. Dalam kerangka itulah maka sarasehan di lingkungan diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan kita untuk berbela rasa kepada sesama yang memerlukan sentuhan kasih dari pihak kita.  Kita tahu bahwa harta kekayaan itu selalu memikat siapapun. Harta kekayaan itu dapat menarik hati setiap orang karena berbagai kemudahan, kesenangan dan kenyaman hidup yang diberikannya. Bahaya dari harta kekayaan adalah godaan untuk menyalahgunakannya, yaitu pada saat orang menjadi buta terhadap kebutuhan sesamanya. Orang akhirnya hanya mementingkan dirinya sendiri. Maka menjadi tantangan bagi kita adalah bagaimana dengan harta kekayaan yang ada pada kita sungguh juga digunakan untuk menyelamatkan orang lain? Hal itu hanya mungkin terjadi kalau kita mempunyai kepekaan hati untuk berbelarasa dengan sesama kita. Dengan demikian, kita tidak menjadi egois tetapi turut mengupayakan keselamatan sesama sebagaimana yang dilakukan Kristus.
Kepekaan untuk berbelarasa mendorong orang untuk ikut terlibat dalam menangani masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Realita kehidupan menyodorkan kepada kita kontras antara orang-orang yang hidup dalam kemewahan dengan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Apa reaksi kita dengan situasi yang seperti itu? Dalam hal inilah Gereja mengajak kita untuk menjadi pelopor/agen perubahan terhadap situasi sosial yang ada di masyarakat dalam hal keterlibatan dengan orang-orang miskin.
Teladan yang ditiru adalah hidup Yesus. Yesus dalam hidupnya senantiasa ditandai oleh kepekaan terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Hidup Yesus itulah yang menjadi dasar bagi kita dalam hal kepedulian sosial. Dalam hal ini, kita perlu belajar dari Ibu Teresa, Calcuta. Baginya, “Orang miskin di mana pun di dunia ini adalah Kristus yang menderita. Di dalam diri mereka Putra Allah hidup dan mati. Melalui mereka, Tuhan menampakkan wajah-Nya. Jika kita menolak mereka, tidak menghampiri mereka, kita menolak Kristus sendiri. Yang terpenting bukanlah melakukan  segala hal atau banyak hal, tetapi kesediaan untuk segala hal setiap saat, dan percaya bahwa pada saat kita melayani kaum miskin, kita sesungguhnya melayani Allah.”
Bunda Teresa menghayati panggilannya sebagai pengikut Kristus dengan menyediakan diri dipakai Tuhan untuk menolong mereka yang menderita akibat kemiskinan. Pola yang diikuti adalah hidup dan karya Yesus sendiri. Panggilan Bunda Teresa dalam pelayanan terhadap orang-orang miskin adalah panggilan kita juga. Kita telah dipanggil untuk menjadi para pengikut Kristus. Itu berarti bahwa hidup Yesus menjadi pola hidup kita. Keprihatinan Yesus terhadap orang-orang yang menderita adalah keprihatinan kita juga. Maka beriman kepada Kristus seharusnya menjadi dorongan bagi kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang berada dalam kesusahan dan penderitaan. Itu kita lakukan dalam dan karena Kritus. Mereka adalah saudara dan saudari kita dalam Kristus sebagaimana yang Yesus ajarkan kepada kita: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:45).
Kepekaan untuk berbelarasa kepada sesama merupakan bagian dari cinta kasih. Cinta kasih itu bukan hanya dalam kata tetapi menjadi nyata dalam perbuatan. Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita menjadi dasar bagi kita untuk menampakkan kasih Allah itu dalam perbuatan-perbuatan baik kita. Dengan demikian, kita menjadi tanda kehadiran kasih Allah kepada sesama. Maka pertanyaannya adalah apakah kita telah berbuat sesuatu untuk sesama kita terutama untuk mereka yang nasibnya kurang beruntung dari kita? Seandainya belum, kita mohon kepada Tuhan agar kita memiliki hati yang peka dan penuh belaskasih, yaitu hati yang mau tersentuh oleh kebutuhan sesama kita.
Allah dalam diri Yesus adalah Allah yang solider dengan manusia. Allah yang berbelarasa dengan manusia. Dia yang menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk keselamatan manusia. Kesetiaan Kristus dalam menjalani kehendak Bapa mengajari kita untuk rela berkorban bagi sesama kita. Tugas kita adalah senantiasa menumbuhkan kepekaan berbelarasa dengan sesama kita sebagaimana Yesus yang telah berbelarasa dengan kita  rela menderita demi keselamatan kita. (Pst. Paulus Yoyo Yohakim, OSC) 
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »