Refleksi Panggilan Romo Yoseph Didik Mardiyanto, Pr

Pengantar Redaksi :
Romo Yoseph Didik Mardiyanto, Pr adalah pastor Keuskupan Agung Semarang yang baru saja ditahbiskan oleh Mgr Robertus Rubiyatmoko pada Jum'at 28 Juni 2019 yang lalu. Sebagaimana pernah ditulis di sini bahwa Romo Didik, demikian dia dipanggil, pernah membantu bekerja di kantor sekretariat BKSY Pusat. Tulisan di bawah ini adalah refleksi panggilan Romo Didik, yang ditulis ulang dari booklet kecil Tahbisan Imam, Keuskupan Agung Semarang yang diterbitkan Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta. Sumber foto-foto  FB Romo Dadang, FB Romo Didik dan koleksi pribadi.  

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Hendaklah Kamu Murah Hati, Sama seperti Bapamu adalah Murah Hati."


Jika hendak meringkas perjalanan hidup panggilan  selama ini, saya akan menyimpulkan dengan rasa: 'perjalanan kemurahan hati", karena di dalamnya saya menemukan kebaikan, kemurahan hati dan belas kasih Allah. Belas kasih Allah itu bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali dan disampaikan lewat orang-orag baik di sekitar saya: keluarga, teman seangkatan, pembimbing, sahabat, dan siapa pun yang saya jumpai. 

Bahkan, kalau diingat-ingat, saya memulai perjalanan panggilan ini dengan sebuah 'kemurahan hati' ketika melihat hasil tes seminari terukir : DICOBA. Yang itu artinya itu, tidak lebih baik dari kata : DITERIMA. Toh, saya tetap 'nekad' masuk. 'Jet-Lag', karena mengalami pergeseran rutinitas: dari orang 'nggunung' menuju kehidupan asrama, prang-orang baru yang mesti saya hafal namanya, juga kedisiplinan tinggi membuat dua tahun pertama saya berakhir dengan keputusasaan, rasa tidak krasan, dan hasil belajar yang tidak memuaskan. 

Namun, ketika itulah saya juga menemukan kemurahan hati berikutnya: sapaan teman-teman seangkatan yang meneguhkan dan kesempatan karena boleh menapaki jenjang selanjutnya. Di titik inilah, saya mulai menemukan tentang arti : panggilan menjadi imam, secara khusus imam diosesan, yang daya tariknya saya dapatkan dari para imam yang berkarya di paroki saya tinggal. Waktu berjalan, saya boleh menuntaskan pendidikan di seminari menegah dan menjadi bagian dari kawanan calon imam Keuskupan Agung Semarang. 

Nah, perjalanan berikutnya inilah yang berubah menjadi terjal, berat dan penuh tantangan. Tanggung jawab makin besar, namun kemurahan hati Allah tidak pernah lepas, bahkan tergores makin kuat dan dalam. Perhatikan peristiwa-peristiwa berikut ini :


  • Saya pernah tinggal di luar seminari (extra domus) selama tiga bulan, dan diperkenankan kembali lagi; 
  • Saya bukan termasuk mahasiswa yang memiliki nilai memuaskan apalagi cemerlang, lebih banyak pas-pasan, namun saya tetap bisa bertahan;
  • Saya pernah seharusnya TOP di Papua, namun SK diubah menjalani tahun perutusan di Jakarta, namun di momen itulah saya menemukan banyak perjumpaan yang meneguhkan;
  • Saya harus terseok-seok menyelesaikan tugas akhir S2, nhamun toh akhirnya selesai juga, meski nilainya pas-pasan.

Tak ada kisah yang indah di sana, yang bisa dibanggakan, namun saya sendiri bangga bahwa dalam segala kelemahan dan keterbatasan itulah, kemurahan hati Allah lewat para pembimbing dan teman-teman seperjalanan, sungguh nyata dan tak tergantikan.

Kalau hendak diceritakan satu per satu dan rinci, tentu halaman-halaman refleksi ini tidak pernah akan cukup selain karena dibatasi oleh panitia dan moderatornya, namun itu semua hendak menunjukkan bahwa saya merasakan kasih, bimbingan dan penyertaan Allah lewat pengalaman-pengalaman yang kadang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Seringkali, pengalaman itu berwujud pengalaman-pengalaman 'jatuh', karena kerapuhan dan kelemahan saya sebagai manusia.  Namun, Allah memberikan kesempatan lagi untuk memperbaiki diri dan bernkembang. Barangkali, kalau Allah tidak menganugerahkan pengalaman 'jatuh' itu, saya tidak pernah menyadari kalau saya benar-benar dikasihi Allah, dan mendengar bisikan panggilan Allah itu dalam hidup saya, karena semua terasa samar dan tidak pasti. 

Dalam pengalaman-pengalaman itu, saya juga menemukan pribadi-pribadi baik, yang memberi inspirasi, meneguhkan dan membimbing saya untuk terus maju dan berkembang, tentu dengan caranya masing-masing, entah itu di Seminari Menengah Mertoyudan, Seminari TOR Jangli, Seminari tinggi Kentungan, Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen, dan ketika menjalani perutusan di Jakarta dan Depok, atau yang terakhir ketika menjalani diakonat di Paroki Marganingsih Kalasan. Mereka adalah para 'formator' yang menjadi gambaran kemurahan hati Allah dalam hidup saya. 

Maka, saya berani menyimpu-lkan bahwa hidup saya ini adalah buah kebaikan dan kemurahan hati Allah, lewat orang-orang yang selama ini saya jumpai, termasuk mereka yang membimbing saya sehingga saya menjadi orang yang makin dewasa dan berkembang dalam hidup panggilan. 

Atas dasar ini pula, seperti yang Yesus katakan kepada murid-muridNya perihal kasih kepada orang lain, yaitu : "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Luk. 6:36), saya pun memilih untuk tetap menekuni jalan panggilan menjadi (calon) imam ini, dengan harapan dan semangat bahwa, saya hendak meneruskan sabda ini kepada orang lain, atas dasar pengalaman hidup saya sendiri. 

Sabda Tuhan ini, bagaimanapun, menjadi inspirasi dan semangat yang tiada habisnya, mengingat hidup dan panggilan manusia pun adalah undangan untuk berbagi kebaikan, dan saya pun diperkenankan untuk ambil bagian secara khusus di dalamnya, dengan segala kelemahan dan kerapuhan saya sebagai manusia yang tidak bisa saya hindari. 


Pada akhirnya, panggilan menjadi imam adalah panggilan ilahi, karena berasal dari Allah sendiri. Tugas saya sebagai manusia adalah menanggapi dan terbuka pada panggilan tersebut, serta pengalaman-pengalaman yang menyertainya. Maka, saya selalu memohon kepada Allah sendiri, bahwa Allah sendiri lah yang selalu membimbing dan mengarahkan, lewat pengalam-an-pengalaman dan lewat orang-orang yang saya jumpai setiap hari. Terpujilah nama Yesus, yang dulu hidup, sekarang dan selama-lamanya.

Soyez donc misericordieux, comme votre Pere est misericordieux (Luc 6:36)
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »