Surga Itu Sungguh Nyata




Kompas hari ini di  halaman 12 memuat sebuah tulisan menarik tentang Fauzi dan Paulina  yang menyediakan nasi gratis untuk duafa. Mereka membuka warung Shodaqoh yang menyediakan makan gratis untuk kaum duafa. Dananya diperoleh dari orang yang ingin berbagi rezeki. Bagi yang tidak mampu saat menerima sebungkus nasi terasa begitu luar biasa. Mereka merasakan surga melalui kepedulian warung Shodaqoh.

Kisah ini mengingatkan saya akan sebuah buku dengan judul Heaven is for Real. Buku ini telah difilmkan  dengan judul Heaven is for Real. Film dan buku ini telah menjadi salah satu film laris di berbagai negara. 

Buku Heaven is for Real ditulis oleh Todd Burpo. Buku ini telah sukses secara fenomenal semenjak diterbitkan pertama kali pada tahun 2010. Buku tersebut telah terjual sebanyak sepuluh juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 39 bahasa. Buku tersebut bertahan selama 60 minggu sebagai buku paperback non-fiksi No.1 dalam daftar buku terlaris New York Times.

Keberhasilan buku tersebut dan filmnya sebagian besar karena klaim Colton bahwa dia mengalami tinggal di Surga dengan segala keagungannya. Bertemu Yesus, para malaikat bahkan melihat Yohanes Pembabtis.

Setelah melihat pengungkapan ini, Yesus mengembalikan Colton ke bumi sebagai jawaban dari doa-doa Todd. Ketika mereka mendengar cerita ini, kedua orang tua Colton terbengong-bengong. Colton belum bisa membaca ketika itu dan mereka yakin mereka belum pernah menceritakan padanya detil-detil seperti yang dia sebutkan. Mereka juga tidak percaya seorang anak yang ketika itu belum genap berusia empat tahun dapat mengarang cerita sedemikian. 

Sejak buku ini terbit  banyak yang tidak percaya dengan kisah ini. Mereka mengatakan itu hanyalah halusinasi akibat dari anestesi yang diberikan pada Colton, dikombinasikan dengan imajinasi yang jelas sebagai seorang anak yang dibesarkan dengan kisah-kisah dalam Alkitab karena ayahnya seorang pendeta. Bagi saya, buku ini bukan tentang tempat tapi harapan untuk membuat surga di manapun kita berada. Ada sensasi kasih, ada sensasi kepedulian melalui tindakan nyata.

Sabtu kemarin kita berkumpul bersama para penggerak BKSY di Wisma Samadi Klender. Esensi pertemuan ini menyampaikan pesan bahwa surga itu terasa nyata melalui program BKSY. Salah satu gerakannya dinamakan pending coffee seperti warung Shodaqoh.

Bapak ibu pernah dengar Pending Coffee di Napoli? Pending Soto di Yogya? Atau gerakan berbagi nasi di Bandung? Kawan saya Mas Budhiana Kartawijaya  menceritakan ada kelompok netizen @berbaginasi. Mereka anak-anak muda yang setiap hari via twitter mengajak warga menyumbang sebungkus nasi plus segelas air mineral. Setiap malam, diatas jam 21.00 mereka berkeliling Bandung membagikan nasi kepada gelandangan, pekerja malam, para penunggu pasien kelas III di RS-RS, pekerja seks, dan lain-lain. Setiap malam, kira-kira 300 nasi bungkus terbagikan. 

Pending Coffee

Konsep amal ini pertama kali dipopulerkan di kota Napoli, Italia dengan nama "Caffe Suspeso". Apa itu pending coffee? Ada sebuah kebiasaan menarik di Napoli (Naples, Italy). Di sebuah coffee shop, ada 2 pembeli masuk dan pesan 5 gelas kopi. Mereka bilang: 2 untuk kami, 3 pending coffee. Mereka bayar 5 kopi untuk dapat 2 gelas kopi. Apa itu Pending coffee? Kata orang itu. Kawannya menjawab: "wait and see".

Tidak lama kemudian ada  3 pengacara pesan 7 gelas kopi. Mereka minum 3 gelas dan bayar 7 gelas.  Tidak lama kemudian, ada seorang buruh datang dan berkata: apakah kalian ada pending coffee? Beberapa lama kemudian ada pengemis yang datang dan berkata: apakah ada pending coffee?

Orang yang tidak mampu, yang berkekurangan dapat minum kopi. Masyarakat di sana melakukan tindakan kecil sebagai wujud kepedulian. Bentuk kepedulian dilakukan melalui kegiatan sehari-hari. Membangun kepedulian sebagai bagian hidup sehari-hari. 

Konsep ini menjadi ramai dibicarakan dan sekarang lebih dari 150 kafe di seluruh Bulgaria melakukan inisiatif amal ini. Selain Bulgaria, Inggris juga bergabung dalam tindakan amal ini. Dilaporkan oleh Daily Mail sekitar 150 kafe di Inggris seperti Starbucks dan Costa mulai mengajak para pengunjung mengikuti kampanye ini.

Ada pula yang bernama Pay It Forward. Gerakan ini muncul di Amerika.  Ada orang beli sarapan di dunkin donat, atau Mc Donald atau kopi di drive through ternyata ada orang yang di depannya telah membayarnya. Gerakan kepedulian ini sekarang terjadi di seluruh America dan Canada.

Saya teringat artikel di The New york Times sekitar bulan Oktober tahun lalu. Judul artikel ini: Ma'am Your Burger Has Been Paid For. Menulis hal yang sama tentang menculnya gerakan Pay it Forward. Saat mereka menerima kopi atau burger, terasa sekali surga itu sungguh nyata.


Sabtu, 20 Juli 2019 kemarin ada rasul BKSY  yang  menceritakan betapa berarti santunan yang diberikan BKSY kepada peserta.  Dana yang ada untuk membeli peti dan kegiatan  acara doa saat 40 hari. Saat penyerahan santunan, mereka terlihat sangat gembira. Wajah penuh kegembiraan. Ah terasa surga itu nyata kata rasul BKSY di paroki-paroki.

Sabtu kemarin saat misa, Bapak Uskup Suharyo mengatakan: terima kasih ke para penggerak BKSY yang telah bekerja secara tekun membantu umat melalui BKSY, saat itulah terasa surga itu sungguh nyata.

Mari kita ciptakan berbagai keindahan surga melalui gerakan BKSY. 

Penulis : Theodorus Wiryawan.


Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »