Mars Seminari dan Belarasa

Cerita kecil di bawah ini ditulis oleh Mas Trias Kuncahyono, mantan Wapemred Kompas, alumni Seminari Mertoyudan tahun 1974, saat mengikuti takziah di Kapel Ursula, Jalan Pos Jakarta Pusat. Yang meninggal adalah Yacobus Darmanto, guru di Santa Ursula, alumni Seminari Mertoyudan angkatan 1984. 

Suasana mendadak hening. Orang yang semula ngobrol pun mendadak menghentikan obrolan mereka, ketika sekitar 20 lelaki berdiri di sekeliling peti jenazah Darmanto, adik Mas Dokter Totok, di Kapel Santa Ursula, Jakarta.

Ada yang berambut gondrong. Ada yang berjaket lusuh. Ada yang berpakain rapi dan berkalung salib. Ada yang bertopi gunung. Ada yang tetep menggendong rangsel. Beragam.



"Hai putra Seminari, selalu sehati.
Ikut panggilan suci dengan niat murni.
Sedia akan karya bagi Greja bangsa.
Karna tujuan kita imamat mulia.

Usaha hidup suci, sehat dan berbudi.
Dengan bangga berbakti berjiwa mengabdi.
Dalam suka dan duka tetap tabah setia.
Demi tujuan kita imamat mulia."

Lagu Mars Seminari itulah yang membuat suasana di dalam kapel hening; yang membuat para pelayat terhipnotis mengarahkan pandangannya ke arah para lelaki yang dengan hikmat dan penuh semangat menyanyikan lagu itu.

Inilah lagu yang menyatukan kedua puluh lelaki itu; yang membuat mereka bagai saudara; yang menyemangati hati mereka untuk berbela rasa, untuk berdiri di sekitar peti menyampaikan semangat persaudaraan pada Darmanto yang sudah menghadap Bapa.

Lagu, memang punya kekuatan pemersatu. Tetapi juga bisa menjadi kekuatan pemecah belah, pengobar kebencian. 

Dan lagu "Mars Seminari" adalah kekuatan pemersatu. Bersatu sebagai saudara sepeziarah.... menapaki jalan Tuhan ...

Kapel Santa Ursula, malam itu  telah menjadi saksi kuatnya persaudaraan "putra-putra Seminari 84". 

sumber video : FB Angela Merici Muharini 



Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »