Rm Y Edi Mulyono SJ : BKSY bukan Asuransi tetapi Gerakan Belarasa Bersama.

Dari 28,07 juta penduduk miskin di Indonesia, sebanyak 1.304.146 jiwa hidup di sekitar kita di Jakarta, Tangerang, Bekasi. Jiwa-jiwa ini sering disebut sebagai orang lemah dan kecil tanpa kuasa, miskin, tersingkir. Sebagian dari mereka (sekitar 10%) adalah orang difabel/cacat yang akses ekonominya lebih sulit lagi. Berbagai masalah dialami: gizi yang tidak cukup sejak dalam kandungan, tidak mampu memberikan pendidikan yang baik untuk anak sampai perguruan tinggi, pengangguran tersembunyi, tidak punya rumah layak, bisanya kost, kalau sakit langsung makin miskin. Jumlah lebih banyak lagi kalau ditambah yang rentan miskin.
  
Dukacita dan kecemasan orang miskin atau hampir miskin atau rentan miskin berlipat-lipat ketika salah satu anggota keluarganya sakit dan diopname, karena ada sekian banyak biaya harus dikeluarkan seperti deposit untuk jaminan rawat inap, transport, makan selama mendampingi anggota keluarga di rumah sakit, biaya perawatan dokter, obat, penginapan. Apalagi kalau opname dialami berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Lebih berat lagi duka dan kecemasan keluarga miskin kalau yang sakit adalah orang yang menjadi kepala keluarga atau menjadi tulang punggung penghidupan keluarga. Aneka pengeluaran yang tak terencana itu diambil dari mana? Tentu duka dan kecemasan itu semakin berat kalau akhirnya yang sakit itu meninggal dunia?  Semakin banyak pengeluaran yang harus ditanggung keluarga itu. Paling berat beban ekonomis mungkin kalau yang meninggal adalah sekaligus tulang punggung penghidupan keluarga. Padahal ada biaya penguburan, doa berhari-hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dst. Keluarga-keluarga yang mengalami duka dan kecemasan seperti itu membutuhkan kepedulian, belarasa dan tindakan kita berbagi.
   
Gerakan Belarasa Kematian dan Kesehatan Santo Yusup - BerKHat Santo Yusup - BKSY adalah salah satu cara yang tepat menunjukkan kepedulian, belarasa dan tindakan berbagi kita. Semangat kepedulian sesama yang kesusahan seperti dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati dengan tindakan belarasa merawat dia serta mengantar sampai penginapan, bahkan menyediakan dana talangan untuk memenuhi kebutuhannya, lengkap dengan janji akan menambahi ! Itulah semangat berkhat St Yusup. Kita semua orang sibuk, seperti orang Samaria yang baik hati itu juga sibuk. Sesibuk apapun, ada sesuatu yang dapat kita kerjakan bagi mereka yang berduka dan cemas karena kematian dan sakit. Bahkan kalau kita tidak ada di dekat mereka itu, kita dapat melakukan sesuatu dengan kerjasama dengan orang lain. Seperti orang Samaria yang baik hati bekerjasama dengan penyelenggara penginapan dan perawatan, kita semua bisa bekerjasama dengan penyelenggara BerKHat Santo Yusup ini. Termasuk menyediakan dana cadangan bagi mereka yang kemudian tidak mampu untuk ikut terlibat, tetapi tidak bisa membayar penuh bagi anggota keluarga.
   
Ketika saya menjadi pastor rekan di paroki Tangerang dengan umat sekitar 20.000 jiwa, yang meninggal dan dimakamkan selama setahun kurang lebih 100 orang. Kalau Penyelenggara Berkhat St Yusup menarik dana belarasa dari masing-masing orang sebesar Rp 80.000 dari 20.000 orang, akan terkumpul Rp 1,6 milyar. Kalau 100 keluarga yang berduka mendapat santunan masing-masing Rp 10 juta, maka dana untuk kematian sebesar Rp 1 milyar dan dana yang tersisa Rp 600.000.000. Dana tersisa itu akan dipakai untuk jaga-jaga membantu 19.900 yang duka dan cemas karena anggota keluarganya opname. Saya amat sering menemukan umat katolik Tangerang mempunyai anggota keluarga yang opname. Jadi dana yang tersisa itu akan terserap banyak, bahkan mungkin habis untuk keluarga yang diopname. Data angka itu itu saya sebut untuk menunjukkan bahwa BerKHat Santo Yusup bukanlah semacam asuransi yang intinya mau mencari untung, tetapi gerakan belarasa bersama. Secara singkat, orang yang mengikuti gerakan ini akan mengatakan, “Dengan membayar Rp 80.000 saja setahun sekali, saya bisa ikut serta peduli dan berbelarasa dengan meringankan beban orang berduka dan cemas, sehingga ketika keluarganya meninggal bisa mendapatkan bantuan Rp 10 juta, dan kalau sakit dapat membantu suatu keluarga mendapatkan uang pengganti kerja selama maksimal 3 bulan sakit.” 

Selamat memulai gerakan Belarasa Santo Yusup. Komisi PSE/APP KAJ mendukung sepenuhnya gerakan kepedulian, belarasa dan berbagi ini. Tuhan memberkati kita semua yang mau berbelarasa seperti Bapa surgawi yang berbelarasa.
   
Jakarta , 21 November 2013
Yusup Edi Mulyono SJ
Ketua Komisi PSE/APP KAJ

Artikel Pilihan
Sebelumnya
Next Post »