BKSY Di Tengah Gereja Tenda Ciledug

Secara luas istilah berbagi (sharing) memiliki makna sebagai penggunaan bersama sumber daya dan ruang. Dalam arti khususnya, berbagi dapat dikatakan sebagai gabungan penggunaan baik yang terbatas (inheren) dan tidak. Dari pemahaman secara luas dan khusus berbagi dapat dimaknai sebagai memberi dan menerima sesuatu baik dari sesama manusia, alam dan Tuhan. Uang, makanan, pakaian, pengetahuan dan waktu adalah sebagian dari banyak aspek penting dalam hidup manusia yang perlu dibagikan.

Berkhat Santo Yusup (BKSY) adalah bentuk konkret dari kata berbagi. Lebih dalam, BKSY mengajak mereka yang ingin berbagi untuk dapat bersama-sama menanggung beban (compassion; com=bersama, passion=beban, kebutuhan). Maka BKSY merupakan sebuah gerakan rohani, gerakan belarasa, bergotong royong menolong sesama dalam kesehatan dan kematian khususnya bagi yang kecil lemah miskin terpinggirkan dan difabel. 

BKSY menjadi cara mengasihi sesama dalam perbuatan yang nyata dengan memberi secara ikhlas tanpa mengharap manfaat bagi diri sendiri. “Karena Allah Bapa kita telah lebih dulu mengasihi kita seperti bacaan Injil yang baru saja kita dengar tadi dalam perumpamaan anak yang hilang,” ungkap Romo Kris, Moderator BKSY dalam suatu kesempatan misa di gereja St. Bernadet paroki Ciledug beberapa waktu yang lalu.

Gerakan ini digagas oleh Uskup Agung kita yang merupakan Magister, guru bagi umat Keuskupan Agung Jakarta, yakni Mgr Ignatius Suharyo, pada 30 November 2013. Mgr Suharyo mengajarkan kepada umat KAJ untuk berbelarasa. Hal ini sesuai dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta tahun 2011 – 2016, Gereja yang hidup adalah Gereja yang umatnya semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa.

Mukjijat Penggandaan 5 Roti dan 2 Ikan

Dalam suatu kesempatan diskusinya di Ciledug, Romo Joseph Kristanto, diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang  yang sejak 2017 juga menjabat sebagai Sekretaris Komisi Seminari KWI ini menganalogikan BKSY dengan peristiwa Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan dari anak kecil yang diterima Santo Andreas dan dibawa kepada Yesus. 

“Zaman sekarang ini kita bisa membuat penggandaan 5 roti dan 2 ikan tersebut dengan bergotong-royong lewat BKSY Rp 80.000 setahun atau Rp 6.700 per bulan, niscaya ribuan orang akan tertolong,” katanya.

“Dari 66 paroki di Keuskupan Agung Jakarta baru 32 Paroki yang ikut, termasuk Paroki Ciledug. Padahal berdasarkan data, sekitar 40% umat Katolik di KAJ ini butuh dibantu dan diperhatikan. Maka pilihannya jelas seperti kisah Bapa yang Baik Hati dalam Kitab Suci, jika sebagai si anak sulung, kita mau ikut masuk dalam pesta suka cita bersama bapa dan si bungsu dengan bermurah hati, atau tidak demikian?” ujar mantan Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan ini memberikan tawaran kepada umat Paroki Ciledug.

Rasul BKSY Paroki adalah Seksi PSE

Di Paroki Ciledug, seluruh kegiatan BKSY berada di bawah koordinasi Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE). Ibu Cecilia Fatmawati sebagai Ketua PSE Paroki Ciledug menambahkan bahwa pengurusan BKSY mulai dari pendaftaran dan pemberian bantuan dibantu oleh PSE. "Alasannya sederhana," kata beliau, "Bukan karena PSE bagian dari BKSY, tetapi ini karena menyangkut mereka yang membutuhkan perhatian dan bantuan, maka PSE tergerak untuk ikut terlibat,” jelasnya.

Penulis : Bambang Gunadi - Komsos Paroki Ciledug
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »