Sang Pangon Bebek Kini Jadi Kardinal

"Sebagai seorang pribadi yang lahir di desa, Mgr. Suharyo akrab dengan lumpur di sawah, menggembalakan kambing, menggiring bebek (angon bebek), dan mandi di kali. Sejak kecil, orangtuanya memberi tanggung jawab dengan membagi tugas yang ada. Mgr. Suharyo memberikan kesaksian: “Saya biasanya memilih angon bebek. Kami dibiasakan untuk ikut merasakan jerih payah orangtua”.

Jiwa penggembalaan rupanya sudah diakrabinya sejak masih anak-anak. Seorang gembala yang baik tentu mengenal akan binatang yang digembalakan beserta tempat penggembalaannya. Adanya pengenalan dan pemahaman akan data umat (masyarakat) beserta budaya yang melatarbelakanginya, menjadi bekal yang penting dalam upaya Gereja memberikan sapaan dan langkah pastoral secara tepat dan mengena sesuai dengan situasi dan latar belakang kebudayaan umat beriman.

Visi yang jelas akan semakin kuat dengan ditopang karakter pemimpin yang baik. Anthony D’Souza menegaskan bahwa Kerendahan hati merupakan kualitas utama dari karakter kepemimpinan yang sejati. Sikap rendah hati ini juga menjadi sikap yang ingin dihidupi oleh Mgr. Suharyo. Hal ini semakin nyata dalam gerak langkah tata penggembalaan dan program kerjanya sebagai Uskup KAS yang terangkum dalam semboyan yang dipilihnya, “Serviens Domino cum omni humilitate” (Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati – Kis 20:19).

Karakter kepemimpinan Mgr. Ignatius Suharyo yang menghayati keutamaan kerendahan hati tersebut tercermin dari perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dinyatakan bahwa Mgr. Suharyo selaku Uskup Agung Semarang menghayati diri sebagai pemimpin Kristiani yang berkarakter.

Kepemimpinan Mgr. Ignatius Suharyo menolak gaya otokratis, tetapi lebih mengembangkan ciri pelayanan yang rendah hati. Pelayanan yang rendah hati tidak pernah mengurangi martabat dasar pribadi, kelompok atau organisasi mana pun, ataupun peran yang menjadi panggilan seseorang dari Tuhan.

Seorang gembala yang baik juga harus berani meninggalkan zona nyaman menuju ke zona yang beresiko untuk menyelamatkan domba-dombanya. Keberanian itu ditopang dengan sikap kesiapsediaan (disponibilitas). Keberanian dan kesiapsediaan itu menuntut sikap kerendahan hati untuk dituntun Tuhan sendiri dalam melayani umat-Nya. Melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati berarti juga terbuka atas bimbingan Roh untuk dituntun ke tempat-tempat yang baru.

Dalam hal ini, teks pilihan semboyan tahbisan Mgr. Suharyo dari Kis 20:19 harus berlanjut, ”Sebagai tawanan Roh, aku pergi ke Yerusalem, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ, selain apa yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku” (Kis 20:22-23). Kesiapsediaannya menjadi Uskup Agung Jakarta semakin meneguhkan karakter kepemimpinannya, yaitu kerendahan hati untuk dituntun Tuhan dalam melayani Umat-Nya".
Sumber : Y. Gunawan, Pr "Belajar Kepemimpinan Mgr. Ignatius Suharyo: Dari Angon Bebek Sampai Angon Umat" (Pohon Cahaya, 2014, cet. ke-2).
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »