Kedamaian dan Bela Rasa, Amanat Paus Fransiskus kepada Ignatius Kardinal Suharyo



JURNALIS Media Indonesia berkesempatan berbincang dengannya mengenai pesan kedamaian dan bela rasa yang diamanatkan Paus dalam surat kepada Kardinal pada Rabu (30/10). Berikut ini cuplikannya.

Dalam sebuah wawancara pada September lalu, Anda sempat mengatakan jika awalnya merasa tidak siap dengan penunjukan sebagai Kardinal. Mengapa? dan bagaimana kini perasaan Anda setelah beberapa waktu menjalani peran baru? Apakah dari awal ada impian suatu hari menjadi Kardinal?

Di dalam gereja Katolik, khususnya di dalam lingkungan kepemimpinan gereja, itu pikiran dasarnya bukan jenjang karier, melainkan pelayanan. Maka, pimpinan tertinggi gereja, yaitu Paus Fransiskus, menyebut dirinya servus servorum Dei, artinya Abdi dari segala abdi atau Hamba dari segala hamba Allah. Itu rumusannya.

Kalau berkaca dari sana, pasti saya tidak mempunyai impian, keinginan, apalagi ambisi. Itu tidak pernah ada di dalam gereja Katolik. Kalau saya ditanya mengenai cita-cita, sebenarnya menjadi polisi, tetapi tidak jadi. Akhirnya saya menjadi imam.

Anda sampai kuliah di Universitas Urbaniana, Italia, untuk mendalami agama, apa itu bagian dari perjalanan untuk pelayanan?

Kalau menjadi imam itu memang cita-cita untuk menanggapi panggilan Tuhan, menjadi pelayan di dalam gereja Katolik. Di dalam hidup seorang imam atau siapa pun di dalam bidang pelayanan gereja, prinsip dasarnya ialah ketaatan kepada pimpinan.

Kalau saya sudah ditahbiskan menjadi imam, itu saya sudah tidak boleh punya rencana sendiri, hanya taat kepada pimpinan. Oleh karena itu, meski cita-cita saya dahulu menjadi imam dan lebih spesifik menjadi imam di paroki, artinya melayani umat secara langsung sebagai pastor rekan di Paroki Bintaran di Yogyakarta selama sembilan bulan.

Karena prinsipnya ialah taat, ketika pimpinan saya, yaitu Uskup Agung Semarang Kardinal Justinus Darmojuwono meminta saya untuk melanjutkan studi, saya tidak bisa mengatakan cita-cita saya menjadi imam di paroki.

Saya tinggal mengatakan saja ya sudah kalau itu berguna dan yang diharapkan dari pimpinan, saya jalan. Maka itu, sudah tidak sesuai dengan cita-cita awal saya. Namun, sesuai dengan watak di dalam gereja.

Berapa lama kemudian Anda belajar? Kembali ke Indonesia dan menjalani pelayanan sebagai pastor paroki atau seperti apa?

Saya belajar selama empat tahun. Kemudian pulang ke Indonesia dan ditunjuk sebagai pengajar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Ketika itu seorang yang mengajar, seumur produktifnya akan mengajar sebagai dosen dengan jenjang kepangkatan yang memang dituntut profesi itu.

Saya pikir dahulu dunia saya sesempit itu. Di Seminari Tinggi Kentungan, di sana dalam satu kompleks ada rumah mahasiswa yang mana saya pernah belajar di sana selama 7 tahun. Saya hanya keluar setelah ditahbiskan, pulang studi pun kembali ke sana. Saya mengajar di sana selama 16 tahun sebagai pengajar di Sanata Dharma.

Saya pikir dunia saya akan sesempit itu karena saya tahu pada suatu ketika pengajar akan pensiun. Di belakang rumah mahasiswa dan dosen itu ada rumah yang diperuntukkan bagi senior, romo-romo yang sudah pensiun. Di depan rumah pensiunan itu ada makam para romo. Dunia saya sebelumnya saya bayangkan sesempit itu, belajar, mengajar, pensiun, lalu dimakamkan di sana.

Kemudian, apa yang Anda rasakan saat ditunjuk sebagai Kardinal oleh Vatikan, untuk perwakilan Indonesia?

Kembali, dengan prinsip ketaatan, kesiapsediaan untuk menjalankan tugas. Maka, sesudah menjadi pengajar selama 16 tahun, saya ditunjuk sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang.

Tidak ada diskusi sebenarnya. Saya ditanya bersedia atau tidak. Namun, di dalam penunjukan itu, saya tinggal menulis bahwa saya menyetujui penunjukan itu. Itu masih lumayan dipanggil untuk ditanya.

Ketika saya ditunjuk sebagai Kardinal itu tidak pernah ditanya. Saya justru mendengarnya dari orang lain, bukan dari Paus. Paus hanya mengumumkan di Vatikan bahwa ada sekian orang yang ditunjuk sebagai Kardinal, nama saya disebut dan nama saya itu susah diucapkan oleh orang Italia.

Saya baru diberitahu Nuncio Duta Besar Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia itu sesudah orang lain tahu, pada 1 September 2019. Saya ditelepon Nuntio, dikabarkan ditunjuk sebagai Kardinal. Tanpa minta persetujuan ditunjuk begitu saja.

Namun, kalau asasnya merupakan ketaatan, saya ikut saja. Jadi tidak ada ambisi, tidak ada cita-cita di dalam pelayanan gereja. Pada dasarnya watak di dalam kepemimpinan gereja itu watak pelayanan.

Seperti apa Anda memandang penunjukan sebagai Kardinal ketiga dari Indonesia? Setelah Uskup sebelumnya karena usia, akhirnya sempat ada kekosongan?

Ketika saya ditelepon duta besar Vatikan, dia menelepon denga kata-kata yang bersemangat, dia mengatakan proficiat, selamat, semua orang bergembira. Padahal, hati saya sama sekali tidak gembira waktu itu. Saya cemas kenapa saya yang ditunjuk.

Karena saya pikir kalau soal pekerjaan tidak terlalu membebani. Pekerjaan apa pun saya yakin bisa dikerjakan karena begitu banyak teman yang bisa membantu. Namun, yang paling berat ialah tanggung jawab moral, beban moral.

Apakah anda melihat jika Indonesia semakin dipandang penting dalam Keuskupan Roma? ataukah memang mekanisme penunjukan ini lebih mengacu pada faktor person saja, bukan karena faktor negara dan kondisi-kondisi yang terjadi di dalamnya?

Saya membutuhkan beberapa waktu untuk menenangkan diri. Saya baru merasa tenang ketika saya sampai pada dua kesimpulan ini. Pertama, meskipun saya yang ditunjuk, itu pasti bukan karena saya hebat. Kesimpulan saya atas penunjukan itu karena Paus, pimpinan gereja Katolik tertinggi itu ingin menghargai gereja Katolik di Indonesia, yang memang dinamikanya bagi saya pribadi itu luar biasa.

Gereja Katolik Indonesia saya sebut dengan satu kalimat singkat, yakni gereja yang hidup, gereja yang kreatif, dan gereja yang memperbarui diri sehingga relevan bagi umatnya dan signifikan bagi masyarakat. Itu yang saya rumuskan secara singkat.

Bagi saya, masih banyak indikasi yang lain yang menunjukkan hubungan antara Vatikan dan Republik Indonesia sejarahnya sudah panjang. Sejak saat itu ada duta besar Indonesia untuk Vatikan dan ada wakil Vatikan untuk Indonesia.

Tentu hubungan yang seperti itu membutuhkan watak dasar yang sama, yaitu gereja Katolik dalam arti Vatikan, di mana-mana selalu berusaha untuk memaklumkan damai sejak awal. Sapaannya Damai Beserta. Selalu seperti itu.

Salah satu tujuan dibentuknya Republik Indonesia ialah untuk ikut memperjuangkan perdamaian dunia. Wataknya sama.

Lalu Pancasila selalu menjadi yang sangat dihargai oleh Vatikan bahwa negara Indonesia yang penduduk muslimnya paling besar di dunia itu menganut kebebasan beragama. Dasarnya ialah Pancasila.

Seperti apa beban moralnya?

Saya merasa tanggung jawab moral itu sangat besar. Mau dan harus menerima itu bukan karena saya, melainkan karena Gereja Katolik di Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Relasinya seerat itu.

Maka, saya tidak heran bahwa waktu pelantikan, Menteri Agama hadir sebagai perwakilan dari Indonesia. Beberapa perwakilan gereja dari Indonesia juga hadir. Simbolisnya itu.

Dalam upacara pelantikan yang telah berlangsung 5 Oktober lalu, Paus menyampaikan pesan untuk tugas seorang Kardinal, salah satunya mengenai menjadi duta perdamaian dan selalu setia pada misi pelayanan. Di luar itu, adakah pesan khusus yang disampaikan Paus kepada Anda, apa saja?

Pesan khususnya ada di dalam surat pribadi yang saya terima dari Paus. Isinya ada beberapa hal. Pertama, Anda sekarang masuk di lingkaran kehormatan tertentu. Saya tidak nyaman menggunakan kata ini sebenarnya. Kardinal ialah 'derajat' jenjang kehormatan yang tertinggi di dalam gereja Katolik.

Di Vatikan, yang berpakaian dengan warna merah salah satunya pada sabuk, selalu berada di paling depan. Baru di belakangnya berdiri uskup agung, uskup, dan lain sebagainya.
Pesannya Paus, pasti warga gerejamu bahagia dan bangga Anda diangkat menjadi Kardinal. Namun, ingat, jangan dipandang ini sebagai jabatan kekuasaan. Jadi, jangan merasa dengan kehormatan itu Anda punya kekuasaan.

Kardinal ialah tanda komitmen total yang dituntut dari Anda. Lambang merah ini melambangkan darah.

Artinya, komitmen Anda ialah komitmen sampai menumpahkan darah. Seperti itu pesannya. Oleh karena itu, jangan pernah dirayakan dengan pesta-pesta dan hura-hura.

Pada bagian akhir pesan, Paus mengatakan, ketika saya mengingat Anda satu per satu, yang langsung masuk di diri saya ialah satu kata, compassion. Itu diterjemahkan menjadi bela rasa.

Seperti apa konkretnya yang dimaksud dengan bela rasa itu?

Paus ialah pribadi yang di mana-mana menunjukkan bela rasa, dari pengalaman akan Allah yang dia rasakan sendiri sejak awal pada waktu dia muda, yaitu Allah yang Maharahim, Allah yang Mahabaik, Allah yang Mahamurah.

Maka, di dalam kitab suci berbunyi, 'Hendaklah engkau berbela rasa seperti Bapamu di surga berbela rasa'. Maka kami yang diangkat sebagai kardinal pesannya jelas sekali bertumbuh di dalam bela rasa dan membawa umat yang dilayaninya ke arah itu.
Itulah semboyan yang 10 tahun dibicarakan bersama-sama di Keuskupan Agung Jakarta, Semakin Beriman, Semakin Bersaudara, Semakin Berbela Rasa. Indikasi dari iman yang benar ialah persaudaraan. Kalau mengaku bersaudara, tapi tidak berbuah pada bela rasa, itu namanya persekongkolan.

Indikasi iman yang benar ialah persaudaraan. Dikaitkan dengan isu toleransi yang terjadi di dunia saat ini dinamikanya lagi tinggi?

Salah satu yang mau dikembangkan Paus kalau saya tafsirkan kenapa beliau pergi ke Abu Dhabi dan bersama-sama Imam Besar Al Azhar menandatangani suatu dokumen deklarasi bersama yang sangat terkenal, yaitu dokumen Abu Dhabi yang judulnya persaudaraan kemanusiaan menuju perdamaian dari persaudaraan dunia. Itu suatu dokumen yang sangat dahsyat menurut saya.

Ketika kami para uskup Indonesia bertemu dengan Paus, pesan terakhirnya itu. Tolong perhatikan dokumen ini dan usahakan supaya menjadi gerakan, tidak hanya dimengerti isinya, tetapi menjadi gerakan bersama sampai akar rumput.

Itu sebabnya pula pada November yang akan datang ini, konferensi wali gereja bersidang di Bandung. Yang akan menjadi bahan pembelajaran itu. Kami mengundang tokoh-tokoh Muhamadiyah, NU, untuk memberi ceramah tentang masalah kemanusiaan, perubahan iklim, dan lainnya. Seperti apa pun agamanya, kemanusiaan kita sama. Ini menantang komunitas-komunitas agama untuk menanggapinya.

Permasalahan-permasalahan itu dirumuskan dalam dokumen Abu Dhabi dan menjadi keprihatinan bersama. Bagaimana komunitas iman yang berbeda-beda harapannya bekerja sama untuk menghadapi tantangan-tangan kemanusiaan.  Pertanyaannya, apa yang harus kita buat supaya lingkungan hidup ini semakin manusiawi. Untuk membuat pertanyaan ini, kompetensi etis bela rasa menjadi mutlak perlu untuk berinisiatif melakukan tindakan mencari solusi dari permasalahan kemanusiaan.

Kardinal memiliki tugas menjadi asisten dan penasihat dekat Paus. Nasihat atau asistensi apa saja yang sudah Anda lakukan di masa awal tugas ini?

Pemberi nasihat Paus itu terdiri atas bermacam-macam lingkaran penasihat. Jadi lingkaran pertama bernama lingkaran sembilan, yang terdiri atas para kardinal yang mewakili lima benua dan yang Paus pilih secara pribadi.

Yang setiap tiga tahun dilakukan ialah nasihat para penasihat yang terdiri atas para kardinal dan uskup. Itu melalui sinode, setiap tiga tahun dilakukan. Para wakil dari konferensi uskup Indonesia, misalnya, yang ada 37 keuskupan, wakilnya dua. Itu penasihan-penasihat di dalam isu-isu tertentu.

Yang baru saja selesai sinode tentang kebakaran Hutan Amazon, yang meliputi tujuh negara di Amerika Latin. Paus meminta nasihat kepada para peserta sinode mengenai perubahan iklim yang diangkat lebih jauh dari sekadar ekologi hutan tambang tetapi integral, terkait masalah ekonomi. Ekonomi zaman sekarang membuat manusia terpinggir atau terangkul. Sebagai contoh, pemangkasan hutan, dan tambang liar di Amazon meminggirkan penduduk asli dan kesenjangan ekonomi semakin tidak terkendali.

Apakah kemudian Anda akan membuat program baru untuk Jakarta atau masukan-masukan baru melalui Konferensi Wali Gereja Indonesia?

Itu nanti tergantung dari diskusi. Sudah diputuskan bahan studi konferensi ialah dokumen Abu Dhabi. Yang akan diundang ialah tokoh-tokoh muslim beberapa tokoh, termasuk ketua NU, perwakilan dari Muhamadiyah, praktisi lapangan yang sudah sungguh terlibat di dalam gerakan kemanusiaan. Gerakan kemanusiaan yang inspirasinya dari iman yang berbeda-beda. Nanti pasti akan dipilih beberapa butir gagasan menjadi gerakan. (M-4)

Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »