NATAL: IMAN, HARAP DAN KASIH

Di Hari Natal ini saya teringat akan Sindu. Dia seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Dia tidak suka makan curd rice. Orang tuanya membujuk Sindu untuk memakannya. 

Sindu mengatakan "Papa-mama, aku akan makan curd rice ini tidak hanya satu dua sendok, tapi aku akan menghabiskannya," cetusnya. Tapi Sindu minta sesuatu sama Papa-Mamanya kalau bisa menghabiskan semua nasinya.

"Apakah Papa-Mama mau berjanji untuk memenuhi permintaanku?," pintanya. 

"Ok, pasti sayang" kata Papa-Mamanya. 

Kemudian Sindu makan dengan perlahan. Dia terlihat sangat tidak suka, namun tetap memakannya. Sindu bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Akhirnya Sindu habiskan. Dan Sindu mendekati Papa-Mamanya dengan mata penuh harap. Ternyata, Sindu minta kepalanya  digundulin. Mamanya spontan menolak. "Tidak mungkin anak perempuan dibotakin. Sungguh tidak masuk di akal", kata Mama. 


Gambar : Ilustrasi dari erabaru.net

Papanya membujuk Sindu agar meminta lainnya saja. Tapi Sindu tetap pada pilihannya. Dia tidak mau pilihan lain. Sambil menangis Sindu mengatakan: "Papa, aku sudah memakannya walau tidak suka. Papa sudah berjanji memenuhi  permintaanku. Bukankah Papa yg  mengajarkan bahwa kita harus memenuhi janji kita".

Papa si Sindu akhirnya memutuskan untuk memenuhi janji. Mamanya tetap tidak setuju. Papanya berkata ke Mamanya, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah tahu bagaimana cara menghargai. Menghargai orang lain dan terutama menghargai diri sendiri.

Akhirnya si Papa memenuhi permintaan Sindu. Besoknya dengan kepala gundul, Papanya antar Sindu ke sekolah. Tiba di sekolah Sindu berjalan dengan mantap, tanpa malu walau dilihat teman- temannya. Tiba-tiba seorang anak kelak keluar dari mobil sambil teriak: "Sindu tunggu saya." Yang mengejutkan, ternyata kepala anak lelaki itu juga botak. Papa si Sindu berfikir mungkin sedang trend kepala botak.

Tak lama kemudian ada seorang wanita keluar dari mobil dan mengatakan ke Papa Sindu: "Anak Anda Sindu benar benar hebat. Anak lelaki yang botak itu anak saya, Haris. Dia menderita kanker leukemia." 

Wanita itu berhenti berkata-kata. Terlihat air meleleh di pipinya. "Bulan lalu Haris tidak masuk sekolah karena chemotherapy.  Karena kepalanya gundul dia tidak mau masuk sekolah. Haris takut diejek teman temannya. Minggu lalu saat Sindu ke rumah kami itu, dia berjanji membantu Haris,  mengatasi ejekan teman-temannya," tutur Mama si Haris. 

"Hanya saya sungguh tidak menyangka, kalau Sindu sampai terpikir melakukan pengorbanan rambutnya yang Indah untuk menemani Haris", katanya. 

"Tuan dan Istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati Mulia," kata Mama si Haris mengakhiri percakapan. 

Papa Sindu terpaku dan air matanya turun. Dia membatin di dalam hati: Malaikat kecilku telah mengajarkan tentang arti sebuah Kasih.

Hari ini kami merayakan suka cita Natal diiringi gerimis yang masih turun di sekitar rumah kami. Natal pada dasarnya tentang Iman, Harap dan Kasih dalam bentuk yang paling Indah dan Manusiawi.

Iman membuat semua menjadi serba memungkinkan. 

Harapan membuat kita mampu bekerja seoptimal mungkin.

Kasih membuat semuanya bisa berjalan dengan Indah.

Semoga di hari Natal ini kita dapat menghayati dan mempraktekan ketiganya.

Selamat merayakan Natal bagi Ibu, Bapak & Sahabat sekalian yang merayakan. Dan selamat berlibur bagi para Sahabat yang tidak merayakannya.

Semoga kita dapat menyapa yang kesepian, memberi perhatian kepada yang kekurangan, dan berbelas kasih dengan hati tulus.

Semoga Damai dan Kasih Tuhan bersama kita selalu di Hari Natal ini.

Penulis : Th. Wiryawan

Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »