Abu Mengingatkan Kita Akan Asal Kita

Puncak Penjelmaan demi Penebusan, adalah Wafat dan Kebangkitan Tuhan Yesus. Peristiwa Agung itu begitu luhur, sehingga sejak lama sekali disiapkan oleh Umat Katolik selama 40 hari, sebagaimana umat Israel membutuhkan 40 tahun untuk ‘keluar dari Tanah Penindasan dan masuk ke Tanah Terjanji’. Persiapan Paskah dimulai dengan Rabu Abu. Hal itu perlu disadari benar-benar, karena Penebusan Tuhan Yesus berkaitan dengan Penjelmaan Sang Putera serta berhubungan sekali dengan Penciptaan, yang ditabrak oleh dosa manusia.
Bacaan pertama hari ini dapat menjadi pegangan mendalam bagi persiapan Paskah. Sebab, Paskah adalah terpulihkannya relasi cintakasih Allah dengan manusia. Pemulihan itu terjadi, ketika manusia ‘berbalik kepada Tuhan’, yakni yang diungkapkan dengan kata “tobat”: berbalik. Pantang dan puasa merupakan ungkapan, bagaimana ‘yang materiil dan duniawi’ mempunyai makna ‘terbatas’ dan hanya diarahkan kepada iman. Alasan terdalam langkah tersebut bukanlah takut akan hukuman Allah, melainkan “sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia…”
Mazmur yang kita daraskan dalam kelanjutan permenungan adalah sapaan kepada Allah, yang penuh ‘kasih setia’. Bila demikian, kita yakin bahwa kita akan dibersihkan dari segala dosa dan kesalahan. Dampaknya adalah: menerima keselamatan yang dibuahkan oleh Penjelmaan dan Penebusan-Nya.
Dalam bacaan kedua kita dapat menemukan Paulus mengajak para muridnya untuk mengambil sikap, yang selaras dengan Yesus Kristus. Di situ kita menjangkau melampaui pantang dan puasa, untuk menggapai pembenaran dalam Tuhan Yesus Kristus. Duduk perkara yang terdalam bukanlah jasa pantang dan puasa kita, melainkan penyelamatan dan Sang Kristus.
Cara yang dianjurkan oleh Gereja untuk mempersiapkan Paskah, adalah tindakan-tindakan yang dilandasi sikap iman. Pelbagai laku tapa mempunyai makna bukan “dari dirinya sendiri”, melainkan dari jasa Tuhan Yesus Kristus, yang memperdalam semua laku tapa, karena Tuhan Yesus, Sang Pelayan Allah, yang mempersilakan Bapa sebagai saksi tindakan kita, yang menggunakan darah dan daging kita.
Dengan demikian, abu mengingatkan kita akan asal kita, tetapi sekaligus juga akan cinta Allah yang menciptakan kita sebagai citra Allah. Dalam pada itu, pemberkatan abu menegaskan, betapa Sang Putera menjadi darah dan daging untuk menebus debu, yang lupa akan dirinya sebagai ‘citra Allah’, sehingga dikuduskan dengan berkah. Marilah kita mohon: agar Roh Menguduskan kita lahir dan batin agar pantas ditebus dalam Wafat dan Kebangkitan Kristus.
Bacaan : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20 – 6:2; Mat. 6:1-6,16-18 
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »