Dasar Perbuatan Baik : Egoisme atau Cinta Kasih?

Perbuatan baik tidak jarang dillakukan atas dasar egoisme yang terselubung. Mungkin kita menolong seseorang atau melakukan kegiatan amal dengan motivasi terpendam dalam hati yang tujuannya agar diri kita terkenal. Pamrih sekecil apapun akan menjadikan tindakan baik kita menjadi tidak tulus. Yesus dalam Injil hari ini memberikan kita contoh bagaimana memberikan pertolongan dengan penuh kerendahan hati.
Hari ini kita mendengar Yesus menyembuhkan orang gagap dan tuli di daerah Dekapolis. Ia melakukannya dengan cara yang tampak khidmat – jauh dari keramaian. Ia menjauhkan orang tersebut dari orang banyak (Mrk. 7:33) dan melakukan serangkaian tindakan yang akhirnya menyembuhkan orang tersebut. Mukjizat-Nya dilakukan secara personal dan tak lepas dari kerendahan hati memuji Bapa-Nya di surga. Yesus mungkin mampu melakukan mukjizat penyembuhan itu dalam sekejap karena kuasa-Nya, namun Ia tidak melakukan hal itu. Dan seperti biasanya, Ia melarang agar orang tersebut tidak memberitakan apa yang dialaminya kepada orang lain (Mrk. 7:36). Ia tidak ingin orang menyalah-tafsirkan misi-Nya sebagai ‘pembuat mukjizat’.
Kerendahan hati Yesus itu bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa Allah turut bekerja pula dalam hal-hal sederhana atas dasar cinta akan sesama. Sebab cinta akan sesama seperti Allah mencintai kita itulah ‘mukjizat’ yang sebenarnya. Perhatian kita yang benar-benar tulus kepada sesama, relasi kita dengan keluarga dan sahabat yang tidak memandang untung-rugi dan egoisme terselubung, pada saatnya akan menghasilkan hal-hal luar biasa. Dalam hal itu Roh Kudus turut bekerja dalam diri kita, sehingga orang lain akan sampai pada kesaksian, “Cinta Kasih menjadikan segala-galanya baik.” Tuhan memberkati kita selalu.
Bacaan : 1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37
(Br. Kornelius Glossanto, SX – Misionaris Xaverian)
Sumber : karyakepausanindonesia.org

Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »