Kebijaksanaan yang Membawa Pembaruan

Menata kekokohan iman berarti mengelola kejernihan pikiran dan cita rasa yang adalah tanur kebijaksanaan sejati yang menghadirkan cara bertutur dan bertindak yang baik dan benar.
Ketika dunia kita dikuasai oleh cara berpikir yang tidak sehat, ruang hati menjadi sarang kebencian, dendam, iri, dan kekejaman, di situlah kita gagal menghadirkan dunia yang bijaksana. Dan pada kekinian kita, sering kali terjadi tindakan kekerasan, kekejaman bahkan pembunuhan. Semua tindakan yang mengancam kehidupan manusia ini berangkat dari iri, dendam, dengki. Berbagai keputusan dan tindakan yang seharusnya mendatangkan kehidupan, kebahagiaan, kesejahteraan justru membuahkan ancaman atas kehidupan. Di sinilah terjadi kepudaran daya kebijaksanaan.
Pada Kitab Pertama Raja-raja, menempatkan sebuah simpul tindakan bijaksana yang diterapkan Salomo dalam menata semua rincian tata kelola hidup yakni mulai dari cara bertutur, berpikir, bertindak juga cara mengelola sikap batin. Salomo memberi suatu ajaran iman dan moral bahwa untuk beriman setiap orang harus mengedepankan kebijaksanaan. Karena beriman berarti kecermatan serta kecerdasan mengelola hidup berdasarkan kehendak Allah, dan di sinilah Allah melalui pikiran dan nurani menempatkan hikmah-Nya pada setiap kita yang percaya.
Dengan kekuatan dan denyutan hikmah Allah itu setiap orang beriman dipanggil untuk menghidupi nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, politik, moral dan religius. Salomo dengan tuntunan Hikmah Allah yang dimiliki, dia sungguh teliti menata cara hidup masyarakat mulai dari cara melayani sesama, cara berpakaian, cara makan, cara bertutur kata serta cara mengolah perasaan.
Sementara Yesus melalui Injil Markus yang kita dengar hari ini menegaskan bahwa kualitas haram-halal, suci-najis bukanlah energi di luar diri kita, melainkan berasal dari dua bilik dalam diri manusia yakni pikiran dan hati. Dari dua ruangan ini terbentuklah kekuatan untuk melakukan kebaikan atau pun kejahatan. Maka tekanan Yesus bagi orang Farisi dan pemuka agama Yahudi juga pada kita di kekinian ini adalah ukuran dan cara menentukan kesucian serta kualitas suatu tindakan bukan disimpulkan dari gejala-gejala atau dorongan-dorongan luar yang terpantul oleh kemampuan dan kepekaan indra melainkan dari tingkat kejernihan pikiran dan kemurnian hati mengelola sebuah sikap dan perintah untuk bertindak secara benar, baik, jujur, adil sehingga semuanya halal di mata Allah dan manusia.
Sebagai para pengikut Kristus di tengah dunia yang rawan kelumpuhan nalar dan ketimpangan nurani, kita dipanggil untuk bergerak maju melalui beberapa derapan langkah Hikmah – Kebijaksanaan yang membawa pembaruan, yakni:
● Hendaknya kita menata semua aspek kehidupan dengan menggunakan kebijaksanaan dan hikmah Allah, yang tidak pernah keliru dan salah dalam mengambil keputusan dan menentukan tindakan.
● Menggunakan hikmah Allah berarti membuka diri pada kebenaran dan kesucian Allah untuk mendampingi kita dalam menata hidup dan memuji Allah.
● Kita hendaknya menumbuhkan iman kita dengan bertumpu pada pikiran yang bijak, serta nurani yang murni. Menjadi pengikut Kristus berarti menampilkan kenyataan iman yang bertanggungjawab dengan nalar yang cerdas dan bijak, beriman
● Hikmah Allah yang menjadi kekayaan iman kita lalu tersimpan di dalam nalar serta nurani kita akan memampukan kita untuk mengolah cara berfikir, bertutur, bercitarasa serta cara bertindak kita yang berujung pada sembah-sujud di hadapan Allah dan perbuatan baik kepada sesama.
dengan tangguh, kokoh dan setia karena bernurani yang tulus dan suci.
Marilah kita mengubah segala kekurangan dan ketidakberesan di luar kita menjadi berkat bagi sesama dan pujian bagi Allah dengan Hikmah dan Kebijaksanaan Allah yang sedang berdiam di dalam pikiran dan nurani kita. Amin.
Bahan Bacaan : 1Raj. 10:1-10; Mzm. 37:5-6,30-31,39-40; Mrk. 7:14-23
(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »