Menyangkal Diri dan Memanggul Salib Bukan Suatu Kebodohan


Kitab Suci tidak hanya berbicara tentang Yesus dan para murid, melainkan juga tentang situasi Gereja perdana. Penginjil Markus hidup pada zaman di mana para rasul sudah semakin tua dan Gereja perdana mengalami berbagai tekanan baik dari luar oleh kaum fundamentalis Yahudi, maupun dari dalam oleh pengajar-pengajar sesat. Gereja perdana bahkan menyandang nama sebagai Gereja yang menderita karena pengejaran dan rentan oleh perpecahan, sehingga tidak sedikit orang mulai meninggalkan Gereja. Dalam situasi inilah St. Markus tampil melalui Injilnya dengan mengingatkan kembali akan apa yang telah dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, ketika berada dalam perjalanan ke Yerusalem: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk. 8:34).
Menyangkal Diri
Menyangkal diri tidak lain adalah mengesampingkan “ego” demi Tuhan. St. Paulus mempunyai kata-kata indah untuk melukiskan hal ini: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:5-7). Karena itu secara injili, menyangkal diri berarti pengosongan diri, membiarkan pikiran dan perasaan kita dikuasai oleh pribadi Yesus sendiri.
Penyangkalan diri bukanlah hal yang mudah. Petrus, salah seorang murid Yesus yang sangat dekat dengan-Nya, telah berkali-kali menyangkali Yesus. Bahkan sebelum pengajaran ini, Petrus ditegur oleh Yesus karena apa yang dipikirkannya tidak lagi sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh Yesus. Tetapi setelah mengalami kebangkitan Yesus dan bertobat, ia telah membuktikan bahwa penyangkalan diri bukan juga hal yang mustahil: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).
Memanggul Salib
Salib adalah cara yang dipakai oleh orang Romawi untuk menghukum mati seseorang karena pelanggaran berat atau dosa yang amat besar. Tetapi makna salib berubah ketika Yesus yang tidak berdosa itu dihukum mati. Salib bukan lagi tanda kekalahan tetapi kemenangan; bukan lagi tanda kehinaan tetapi kemuliaan, dan bukan lagi tanda kebencian, melainkan tanda kasih yang amat besar“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15: 13).
P. Henry Nouwen, spiritualis abad ini menghayati makna salib sebagai “Piala Penderitaan” yang harus dipegang, diangkat, disyukuri dan bahkan akhirnya diminum. Ketika kita bersatu dengan Tuhan Yesus, maka tidak ada lagi penderitaan yang dapat membuat kita menderita. Itu sebabnya setiap tahun Gereja senantiasa mengumandangkan lagu: “Kita harus bangga akan salib Tuhan kita, Yesus Kristus”.
Tanpa kita sadari, dunia kita saat ini telah diselubungi dengan slogan-slogan yang menawarkan kebebasan manusiawi dan kebahagiaan duniawi. Keduanya bagaikan saudara kembar yang berusaha melemahkan iman, menjauhkan kita dari nasihat Injil dan dari pangkuan Gereja. Kiranya firman Tuhan pada hari ini dapat menjadi “terang” yang mengingatkan kita kembali bahwa menyangkal diri dan memanggul salib bukan merupakan suatu kebodohan, melainkan kebanggaan kita sebagai murid Yesus.

Bacaan : Yak. 2:14-24,26; Mzm. 112:1-2,3-4,5-6; Mrk. 8:34 – 9:1
(RP. Anton Rosari, SVD – Imam di Keuskupan Bogor)
Sumber Tulisan : https://karyakepausanindonesia.org/   
Sumber Foto : Alem Sánchez dan TOFIN PHOTOGRAPHY dari Pexels
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »