Puasa yang Bermakna dan Membawa Berkah

Rabu Abu baru saja kita lewati, permulaan pantang dan puasa. Puasa orang Katolik terlihat enteng, makan kenyang satu kali sehari dan berpantang apa yang paling disukai: daging, rokok, kopi, jajan, dan lain-lain. Sepanjang hari masih boleh makan kecil dan minum, hanya tetap menghindari apa yang menjadi pilihan pantang kita. Apakah berpuasa cukup hanya sebatas perkara makan dan minum?
Orang Yahudi taat berpuasa sebatas mengikuti ketetapan agamanya. Tetapi perbuatannya jauh dari yang dikehendaki Tuhan. Apa yang mereka perbuat, jauh dari keadilan dan kejujuran. Mereka menindas dan memeras umat Tuhan. Meskipun mereka taat berpuasa tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Murid-murid Yohanes melakukan puasa juga sebagai tradisi agama dan kesedihan atas kematian Yohanes yang tragis.
Tapi apa yang dikatakan Yesus soal berpuasa? “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” [Mat. 9:15]
Berpuasa harus mempunyai makna dan tujuan. Tujuan umat Katolik berpuasa, harus sampai kepada Yesus, Sang Mempelai. Puasa yang sejati: pertama, puasa jangan dilakukan sekedar rutinitas karena Gereja sudah menetapkan selama masa Pra-Paskah umat wajib melaksanakan puasa dan pantang. Maka umat taat dan melaksanakan puasa dan pantang mengikuti aturan yang ditetapkan Gereja, tanpa pernah memaknai dan memahami apa tujuan yang harus dicapai.
Kedua, dalam melaksanakan puasa dan pantang harus tetap berada dan melaluinya bersama Yesus, Sang Mempelai sejati. Senantiasa membina relasi dan perjumpaan dengan-Nya yang terus-menerus dalam kegiatan kita sepanjang hari. Mungkin tidak mudah, tetapi momen ini harus terus diperjuangkan dan terus dibina dalam seluruh kehidupan kita.
Ketiga, mengapa Gereja menetapkan masa Pra-Paskah untuk umat melaksanakan puasa dan pantang? Gereja selalu mengikuti dan melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus, Putera Bapa. Mengacu kepada ayat diatas, Mat. 9:15. Yesus sudah menetapkan kapan waktunya yang tepat bagi murid-murid-Nya berpuasa, yaitu saat mempelai diambil dari mereka.
Momen kehilangan orang yang dicintai, orang yang menjadi panutan mendatangkan kesedihan dan dukacita. Saat inilah waktu yang tepat untuk berpuasa.
Umat Katolik memasuki masa Pra-Paskah, inilah saat yang tepat bagi umat untuk berpuasa dan berpantang dengan kerendahan hati, tidak perlu pamer diri, tetapi fokus mencari terang Tuhan yang akan mengusir kegelapan. Saat inilah waktunya kita kembali mendekat kepada Tuhan, dengan penuh penyesalan dan pertobatan sejati mau datang mengakui kedosaan kita.
Kita yakin dan percaya meski sebagai pendosa, kita dicintai dan akan beroleh pengampunan dari Bapa. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba [Yes. 1:18].
Mari kita lakukan puasa yang bermakna dan mendatangkan berkah pengampunan. Kita lalui masa sengsara Yesus, memikul salib kehidupan bersama-Nya. Dengan penuh keyakinan dan percaya menantikan kedatangan Sang Mempelai kembali dalam perayaan Paskah nanti.
Bacaan : Yes. 58:1-9a; Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19; Mat. 9:14-15
(Alice Budiana – Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini, Paroki Kelapa Gading – KAJ)

Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »