Rendahkan Hatimu – Tuhan Menguji Iman !

Kita sering mendengar kisah-kisah heroik seorang ibu yang memperjuangkan kehidupan anak-anaknya. Ada yang rela bekerja menjadi pengumpul sampah, berjualan keliling dari gang ke gang dan bekerja di kantor dari pagi hingga malam hari demi untuk menghidupi anak-anak mereka. Bahkan yang lebih ironis lagi, ada yang mengambil jalan sebagai PSK demi menghidupi anaknya yang baru berusia satu tahun. Terkadang seorang ibu, seberapa pun beratnya pekerjaan yang dijalaninya, bahkan yang tidak diinginkannya sekalipun, akan rela dijalaninya demi buah hatinya. Mungkin demikianlah seperti yang dialami seorang ibu yaitu perempuan Yunani berkebangsaan Siro-Fenesia yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Anak perempuannya mengalami sakit akibat kerasukan roh jahat. Demi anaknya ini, ibu tersebut bahkan rela diuji oleh Tuhan lewat ‘penolakan’ yang seperti kebanyakan orang Yahudi memandang orang non Yahudi sebagai kaum kafir atau kaum rendahan yang bagaikan anjing-anjing liar dan tidak seperti mereka sebagai kaum terpilih, anak-anak Allah sendiri.
Apakah Yesus memang benar-benar menolak memberikan kesembuhan untuk anak perempuan ibu tersebut? Bersungguh-sungguhkah Yesus mengatakan hal tersebut, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu! Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing?” Saya membayangkan, Yesus berkata demikian kepada ibu ini sambil tersenyum ramah dan menantang iman ibu ini apakah tetap berharap kepada-Nya bahkan ketika berada pada level kejatuhan yang paling rendah. Atau mungkin juga mau menyindir orang-orang Yahudi yang berada di sekeliling-Nya akan siapa diri-Nya yaitu Roti Kehidupan yang tidak juga dimengerti oleh orang Yahudi yang belum percaya kepada-Nya.
Pengalaman penderitaan yang paling hebat yang dialami oleh seorang perempuan Siro-Fenesia ini bukanlah karena anak perempuannya sakit. Jauh dari itu, menurut saya justru pengalaman penderitaan yang paling hebat yang dialaminya adalah ujian perendahan yang serendah-rendahnya harus menerima sindirian sebagai anjing. Terkadang dalam kehidupan, kita merasa masalah kitalah yang paling berat dibandingkan dengan orang lain. Bahkan tidak jarang orang-orang berputus asa dan tidak melihat jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Orang-orang melupakan Tuhan untuk senantiasa berharap kepada-Nya. Akhirnya banyak orang yang memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya sampai memilih jalan bunuh diri. Namun kita bisa belajar dari perempuan Siro-Fenesia ini. Belum selesai derita yang dialaminya karena anaknya mengalami sakit kerasukan roh jahat, ia ditimpa derita yang lebih luar biasa lagi. Ia dan anaknya ‘dianggap’ belum patut menerima penyembuhan dan disamakan dengan anjing. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, perempuan ini lulus ujian dari Yesus. Di tengah masalah yang paling berat sekalipun, perempuan ini tetap menunjukkan kesungguhannya, kerendahan hatinya dan pengharapannya yang sangat besar akan belas kasih dan cinta Tuhan kepada mereka. Ketika mendengar jawaban perempuan ini, “Benar, Tuhan! Tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak”, Yesus kemudian berkata, “karena kata-katamu itu, pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Iman ibu ini meskipun hanya sebesar remah-remah roti saja tetapi mampu menyelamatkan dirinya dan anak perempuannya.
Mari kita belajar, dalam situasi yang paling berat sekalipun, Tuhan tetap menunggu kita untuk terus percaya dan mengandalkan pertolongan-Nya. Kasih-Nya tanpa batas, melampaui segala suku bangsa dan ditujukan kepada semua yang percaya kepada-Nya.
Bacaan : 1Raj. 11:4-13; Mzm. 106:3-4,35-36,37,40; Mrk. 7:24-30 
(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »