Belaskasih adalah Tanda Iman Yang Hidup

Kisah orang Samaria mungkin telah kita hafal di luar kepala. Tapi apakah kita benar-benar telah memaknainya dalam diri dan kehidupan kita? Orang Samaria memilih berhenti, karena “tergerak oleh belaskasih”. Ia mau merawat luka-luka orang asing yang ditemuinya di tengah jalan, karena satu alasan, yaitu belaskasih.
Gambar mungkin berisi: teks, luar ruangan dan alamMengapa hati orang Samaria bisa memiliki belaskasih? Orang Samaria mau memposisikan dirinya dalam situasi orang asing itu. Bila saja kita yang berada dalam situasi tersebut, apakah yang kita harapkan akan terjadi? Mendapatkan pertolongan! Di saat kesakitan dan penderitaan kita akan sedih dan harus menderita lebih lama jika orang yang berpapasan dengan kita hanya melenggang pergi begitu saja. Dalam situasi sulit kita mengharapkan dan membutuhkan belas kasih orang lain. Karena mau memproyeksikan dirinya dalam orang asing, maka orang Samaria dapat mengulurkan tangan untuk menolong tanpa berpikir mengenai untung rugi atau balasan sebagai imbalan. Ia menyadari dirinya pun pasti membutuhkan belaskasih karena itu ia memberikan belaskasih.
Mengikuti Kristus adalah laku iman yang diwujudkan dalam tindakan belaskasih. Belaskasih adalah perintah hati, panggilan hati Tuhan. Seperti yang dikatakan di Kitab Ulangan. “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh” (Ul. 30:11). Perintah Tuhan mudah dan dekat adanya, tidak berada di seberang lautan hingga sulit dijangkau, atau pun di atas langit sehingga mustahil dilaksanakan. “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul. 30:14). Perintah itu ada di hati. Hati yang berbelaskasih. Dan perintah itu diberikan, untuk dilakukan, bukan sekedar didengarkan atau diucapkan semata.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose mengingatkan akan satu hal yang sekali-kali tidak boleh kita para pengikut Kristus lupakan. “Ialah (Tuhanlah) kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu” (Kol. 1:18).
Di dalam kehidupan ini mungkin kita terlahir sebagai si sulung, atau menjadi kepala keluarga, atau kepala sebuah organisasi bahkan kepala pemerintahan. Apapun posisi dan jabatan tertinggi yang kita duduki saat ini, tetap selalu ada yang lebih tinggi dari kita semua, yakni Kristus. Ia adalah Kepala dari semua. Karena itu sekiranya kita tidak lalai mengingat dan kemudian merasa ‘menjadi penguasa tanpa Tuan’, yang menguasai tanpa rasa takut akan Tuhan. Hendaklah kita yang mengaku mencari Tuhan, tetap memelihara kerendahan hati, karena mengimani kebesaran Tuhan. Dan untuk itu Tuhan akan kembali menghidupkan hati kita. Hati yang mampu berbelaskasih.
“Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!” (Mzm. 69:33).
(Angel – Karya Kepausan Indonesia)
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »