Jangan Munafik, Bertobatlah Sungguh-Sungguh!

Image result for Mat 5 20-26Anak cucu Abraham-Ishak-Yakub ingin mengikuti petunjuk Allah secara lahir-batin. Kesungguhan itu sebenarnya mendorong mereka untuk melaksanakan Taurat secara benar. Maka mereka pada dasarnya tidak suka dengan sikap munafik dalam melakukan perintah-perintah, sebagaimana nampak dalam Alkitab: mengamini Sabda Tuhan di mulut ketika mendaraskan Kitab Suci, tetapi tidak melaksanakannya dalam tindakan. Sikap itu mengingatkan mereka pada Adam dan Hawa, yang di hadapan Tuhan mendengarkan Sabda-Nya, namun di belakang-Nya ternyata melawan perintah Allah. Yehezkiel dalam kutipan ini mengingatkan, bahwa dosa itu tidak begitu saja tidak terampuni: Allah dapat menerima pertobatan sejati yang mencakup hati-budi maupun aksi. Kalau orang bertobat sungguh-sungguh demikian, ia selamat dan hidup, karena buah dosa adalah kematian. Sikap dasar ini hendaklah mewarnai hidup kita seluruh masa Prapaskah, yang memang mempersiapkan kita menyambut Tuhan Yesus, yang Wafat dan Bangkit bagi keselamatan kita.
Mazmur yang diambil mau membawa ke dalam doa umat: ‘perasaan’, bahwa orang yang sadar akan kodratnya yang lemah, sering kali khawatir, kalau-kalau pertobatan, sebagaimana diungkapkan dalam Bacaan I dari Yehezkiel, tidaklah mudah. Memang sekarang kita mengakui juga, betapa kelemahan manusia untuk berdosa dan kemudian mau bertobat, sungguh nyata: namun sama nyatanya pula, apa yang dikatakan dan dikaruniakan Tuhan, kepada manusia yang mau bertobat. Oleh sebab itu, Mazmur Tanggapan ingin mengajak kita mengarahkan hati pada pertobatan itu dengan menyerukan permohonan, agar manusia dapat dan mau bertobat. Kini pun kita dapat mendaraskan permohonan untuk siap bertobat.
Melanjutkan semangat Anak cucu Abraham, Yesus juga menggarisbawahi tidak layaknya murid-murid-Nya untuk bersikap munafik: hati dan aksi tidak sesuai. Dalam pada itu, para murid dalam hidup sehari-hari mengalami dan menyaksikan, betapa kemunafikan tersebar dalam keluarga dan masyarakat mereka. Yesus malah mengajak para murid untuk melangkah lebih mendalam: tidaklah cukup kalau orang tidak melanggar Taurat, seperti ‘membunuh’; murid Yesus diperingatkan, bahwa ‘marah kepada saudara pun’ tidak baik, karena merupakan ungkapan kebencian yang mematikan pula. Dengan kata lain, ‘intensi murni’ dalam mengikuti Tuhan Yesus mendorong kita untuk hidup sebersih mungkin: menyatu dengan Sang Putera.
Hari ini kita didorong untuk mengisi Masa Prapaskah benar-benar dengan sikap batin bertobat, agar pantas ditebus oleh Wafat dan Kebangkitan, yang dirayakan waktu Paskah: menjaga intensi murni dalam puasa dan lakutapa, tidak munafik serta secara lahir batin menyiapkan diri menyambut Penebusan Tuhan, 40 hari lagi.
Bahan Bacaan : Yeh. 18:21-28; Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; Mat. 5:20-26  
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »