Kepedulian akan Kemanusiaan adalah Awal Panggilan Kekudusan ~ BKSY | Gerakan Belarasa Keuskupan Agung Jakarta

Kepedulian akan Kemanusiaan adalah Awal Panggilan Kekudusan

Di awal pekan pertama Prapaskah ini Gereja mengajak kita merenungkan tentang keutamaan hidup Kristiani. Tentu kita mengetahui banyak agama di dunia mengajarkan untuk menjauhi kejahatan dan dosa. Namun sebagai pengikut Kristus, kita disadarkan bahwa kita mendapat misi yang melampaui itu semua. Kita dipanggil menjadi ‘Kudus’ – “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Im. 19:1). Dalam bacaan pertama kita diajak mendengarkan kisah Musa yang menyampaikan perintah Allah kepada umat Israel. Jika kita membaca seluruh Imamat 19, kita melihat ada begitu banyak larangan yang diberikan. Itu semua diberikan agar umat Allah hidup secara kudus.
Dalam Injil kita membaca mengenai penghakiman terakhir. Yesus di sini menyamakan diri-Nya dengan ‘mereka yang lapar, sakit, dipenjara, telanjang’. Dalam situasi saat ini mereka itu mewakili situasi banyak orang dan mungkin situasi kita sendiri. Mereka adalah orang-orang yang lapar dan haus akan cinta kasih, mereka yang terasing dari komunitas, dipenjara karena dikucilkan, telanjang karena dipermalukan, diambil segala hak dan harga dirinya sebagai manusia. Mereka ada disekitar kita dan Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Panggilan kepada kekudusan sebagai orang Kristiani disini berarti tidak berhenti pada menjauhi larangan keagaaman dan melaksanakan kewajiban sebagai orang beragama, melainkan juga terlibat dan peduli akan sesama yang membutuhkan.
Peduli dan memperhatikan mereka yang miskin, tersingkir dan sakit memang bukan hal yang baru. Dalam sikap peduli tersebut tercermin bagaimana kita menghargai dan memperjuangkan kemanusiaan. Kemanusiaan itu hal yang utama dan layak diperjuangkan dan hanya dengan hati yang terbuka tersebut kita mulai menghidupi keyakinan yang kita imani. Sebab ada perbedaan yang cukup mendasar antara menjauhi larangan agama dan memberikan bantuan. Yang pertama masih terpusat pada diri sendiri yang kedua memperlihatkan sikap keluar dari sendiri bagi yang lain.
Hanya dengan keluar dari diri sendiri kita mampu mencintai orang lain. Tepat seperti itulah definisi ‘misi’ oleh Uskup Agung Helder Camara, bahwa misi berarti selalu pergi keluar. Keluar dari diri sendiri untuk mecintai sesama. Tidak perlu melakukan perjalanan jauh mengarungi samudera, sebab misi itu ada tepat di sekitar kita. Maka di awal masa Prapaskah ini juga, marilah dengan pantang dan puasa kita mohon agar peka akan tuntutan Roh Kudus dalam hidup kita menapaki jalan kekudusan. Dan semoga dalam masa persiapan ini kita makin menyadari bahwa segala bentuk sumbangsih dan kepedulian kita akan sesama merupakan perwujudan iman kita sebagai misionaris Kasih Allah di dunia. Tuhan memberkati.
Bacaan : Im. 19 :1-2, 11-18; Mzm. 19: 8, 9, 10, 15; Mat. 25: 31-46
(Br. Kornelius Glossanto, SX – Misionaris Xaverian)




Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »