Mgr Ignatius Suharyo : Meneladan Spiritualitas HARAPAN Bunda Maria di Tengah Pandemi Covid-19


OPTIMISME tidaklah cukup bagi kita umat kristiani dalam menghadapi saat-saat sulit dalam hidup, seperti pandemi Covid-19 sekarang ini. Kita diundang untuk mempunyai semangat / spiritualitas HARAPAN Bunda Maria yang hari ini kita rayakan sebagai ‘Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita’.

Optimisme hanya berdasar pada perhitungan manusia saja. Misalnya : Covid-19 akan berakhir dalam 3 bulan. Tapi jika perhitungan ini meleset, optimisme dapat berubah menjadi pesimisme.

Spiritualitas HARAPAN Bunda Maria artinya hidup bukan hanya bertumpu pada optimisme tetapi hidup dan setia pada janji Allah. Bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik pada akhirnya akan menyelesaikan karya baik ini untuk keselamatan umat manusia. (Walau kadang manusia menangkap Allah seperti tidak berbuat apa-apa ketika saat-saat sulit hidup kita)

Untuk mengerti arti spiritualitas HARAPAN yang dihayati Bunda Maria kita perlu mengingat semangat/spiritualitas “Orang-orang Miskin Yahwe” yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama (PL).

Secara singkat, umat Allah Perjanjian Lama berakhir pada kehancuran. Tahun 587 SM umat Israel dikalahkan dan dibuang ke Babilonia. (Dapat dibayangkan penderitaan orang dlm pembuangan). Lalu Babilonia dikalahkan Persia. Setelah 50 tahun, Persia memperbolehkan orang-orang buangan ini kembali ke ‘Tanah Terjanji’ (Palestina). Namun, ternyata tidak semua mau kembali. Setidaknya ada 4 kelompok. 

Pertama, tidak mau  kembali karena mereka sudah melihat ‘allah’ yang kalah, powerless sehingga tidak ada guna lagi kembali. 
Kedua, ada yang merasa dosa mereka terlalu besar sehingga ‘allah’ menghukum dan tdk akan mengampuni mereka. 
Ketiga, tidak mau kembali karena mereka sudah sukses di pembuangan: ada yang jadi pengusaha, penguasa, bupati. 
Keempat, Orang-Orang Miskin Yahwe. Mereka inilah yang kembali ke Tanah Terjanji, membangun kembali Palestina yang sudah rata dgn tanah, membangun kembali kenisah karena mereka TETAP SETIA pada janji Allah bahwa Allah sendirilah yang  mendampingi dan menyelamatkan mereka.

Berharap tidak berarti tidak berbuat apa-apa. Dengan meneladan spiritualitas HARAPAN Bunda Maria, Orang-Orang Miskin Yahwe, pertanyaannya adalah, “Apa yang dapat kita lakukan untuk kebaikan bersama seperti pada saat-saat sulit pandemi Covid-19 ini?” Dengan usaha bersama dan Rahmat Tuhan, kita bisa. Amin.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Disarikan dari Homili Mgr Ignatius Kardinal Suharyo pada Misa Hari Raya Kabar Sukacita 25 Maret 2020 yang disiarkan langsung oleh Channel HidupTV. 



Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »