Jalan Menuju Kesempurnaan Kasih dan Kesucian di Tengah Wabah Corona


Saudari-saudaraku yang terkasih semoga saudari-saudara sekalian beserta keluarga dan komunitas dianugerahi sehat dan berkelimpahan berkat.

Saudara-saudari yang terkasih ketika saya menyiapkan ibadah ini muncul satu pertanyaan mengapa Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dipakai sebagai pelindung Gereja Katedral ini. Saya tidak tahu jawabannya, dan saya juga tidak mencari jawaban itu di dalam sejarah Gereja Katedral ini. Karena saya ingin menafsirkannya. Moga-moga tafsiran saya tidak salah, kalaupun salah saya yakin pasti maksudnya baik.

Saudara-saudari yang terkasih, kita semua tahu Gereja Katedral adalah gereja induk. Di dalam bahasa latin ecclesia mater. Artinya apa? Gereja induk adalah gereja yang menjadi arah pandang seluruh umat katolik dan seluruh paroki di keuskupan ini. Sementara Bunda Maria Diangkat ke Surga adalah murid Yesus yang sempurna. Sempurna di dalam kasih, sempurna di dalam kesucian. Maka pertanyaan mengapa Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dipilih menjadi pelindung Gereja Katedral ini, jawabannya menurut penafsiran saya adalah seperti ini. Dengan memilih Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga sebagai pelindung Gereja Katedral ingin disampaikan pesan yaitu bahwa arah pandang dan arah hidup setiap dan semua orang katolik adalah kesempurnaan kasih dan kesempurnaan kesucian seperti dan dengan meneladan Bunda Maria.

Saudari-saudaraku yang terkasih, pesan inilah yang ditegaskan di dalam ajaran resmi gereja dan kemudian diuraikan lebih rinci oleh Paus Fransiskus di dalam anjuran apostolik yang berjudul Bersukacita dan Bergembiralah, Panggilan Kesucian di Jaman Sekarang. Saya mengutip beberapa kalimat dari ajaran Paus Fransiskus itu. Beliau mengatakan begini kita bertumbuh di dalam kesucian yang merupakan panggilan kita semua melalui hal-hal kecil sehari-hari.  Lalu beliau memberi contoh yang secara konkrit. Contohnya seperti ini :

-        Seorang ibu pergi berbelanja. Di tempat berbelanja berjumpa dengan tetangganya lalu mulailah mereka berbicara. Sampai pada suatu titik terjadilah gosip. Gosip adalah bicara jelek tentang orang lain. Tetapi ibu itu mengatakan di dalam hati tidak. Saya tidak akan berbicara jelek tentantg orang lain. Paus mengatakan ‘inilah langkah konkrit menuju kesucian’.
-        Contohnya masih dilanjutkan. Ibu itu pulang ke rumah sudah lelah tetapi salah seorang puteranya minta waktu untuk berbicara mengenai harapan-harapannya yang dipikirknnya. Kendati lelah ibu itu duduk mendengarkan dengan penuh kasih dan penuh perhatian. Paus mengatakan ‘satu langkah maju lagi menuju kesucian’.
-        Berikutnya ibu itu merasa cemas entah karena apa, tetapi di hatinya ada Bunda Maria Penolong Abadi maka ia mengambil rosario, berdoa. Satu tangga lain lagi menuju kesucian.
-        Selanjutnya lagi ibu itu hari berikutnya pergi keluar, dan di jalan ia melihat seorang pengemis, ia dekati pengemis itu, ia sapa dengan kata-kata yang bersahabat. Paus mengatakan ’satu tangga lagi menuju kesempurnaan kesucian’. Kita semua dipanggil untuk bertumbuh menuju kesempurnaan kasih, kesempurnaan kesucian melalui hal-hal kecil sehari-hari.

Saudari-saudaraku yang terkasih, dalam bahasa iman katolik apa yang dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini pada jamannya, sekali lagi dalam bahasa iman Katolik, adalah bertumbuh dalam kesempurnaan kasih itu. Dia adalah seorang pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Pokok yang mesti  direnungkan lebih dalam pada kesempatan lain. Oleh karena itu saudari-saudaraku yang terkasih, pertanyaan yang harus kita jawab adalah ini : Apa relevansi ulang tahun Gereja Katedral dan Hari Kartini yang kita peringati pada hari ini di tengah-tengah pandemi, wabah virus Corona 19 ini?

Jawabannya bagi saya sangat jelas. Jawaban itu adalah mari kita jadikan masa yang berat ini sebagai kesempatan untuk semakin banyak berbuat baik sebagai jalan menuju kesempurnaan kasih dan kesempurnaan kesucian. Caranya bagaimana? Sangat banyak. Mesti kita temukan sendiri-sendiri, kita temukan bersama keluarga dan komunitas kita dengan menjawab pertanyaan ini apa yang harus kita lakukan agar di dalam keadaan seperti ini, masyarakat kita, umat kita menjadi semakin sehati dan sejiwa sehingga tidak ada seorangpun yang berkekurangan karena semua warga umat, karena semua warga masyarakat rela berbagi seperti dikisahkan di dalam bacaan yang pertama gambaran umat murid-murid Kristus yang pertama. Marilah kita yakin, sekecil apapun perbuataan baik yang kita lakukan, khususnya di tengah-tengah masa yang berat ini adalah langkah maju, tangga menuju kesempurnaan kasih dan kesempurnaan kesucian.

Semoga gereja katedral mendorong kita semua untuk terus bersemangat mencari jalan-jalan kreatif untuk berbuat baik. Dan semoga anugerah Raden Ajeng Kartini bagi bangsa kita dapat menjadi anugerah yang kita syukuri dan menjadi kekuatan bahwa melakukan sesuatu di dalam keadaan tertentu menjadi sangat baik untuk kepentingan bersama. Tuhan memberkati.  Sekarang marilah kita haturkan doa-doa kita ke hadapan Tuhan. 

Transkripsi Homili Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo pada Misa Peringatan Pemberkatan Gereja Katedral dan Peringatan Hari Kartini, 21 April 2020 (khs).
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »