Minggu Panggilan : Roh Berhembus di Mana DIA Mau

Bacaan Injil pada hari ini memperlihatkan dengan jelas, bahwa pada hari Minggu Panggilan, seluruh umat diajak untuk menyadari bahwa Allah memanggil seluruh umat melalui Yesus Kristus. Sebab, Tuhan Yesus memang ditugasi untuk menjadi Gembala, yang memanggil kita, para domba-Nya. Dalam pada itu, sejarah Gereja memperlihatkan, bahwa umat menangkap panggilan melalui para Rasul-Nya, seperti Petrus, dan Paulus, dsbnya, sebagaimana terpapar dalam Kisah para Rasul.
Kis. 2:14a.36-41: sudah cukup dini, para Rasul meyakini, bahwa iman kepada Yesus Kristus merupakan pokok, yang harus mereka wartakan. Kekuatan Roh telah meneguhkan mereka, sedemikian sehingga mereka terpanggil, untuk menjadi saksi iman: saksi hidup, bukannya saksi yang langsung berhadapan dengan maut. Dengan kata lain, panggilan Allah melalui Yesus terwujud melalui seruan, yang disampaikan oleh para Rasul kepada orang-orang sekitar mereka. Dari ‘homili’ atau ‘kata-kata kesaksian para Rasul’, umat mendengar panggilan Allah, untuk mengimani Yesus Kristus, supaya dapat mendekat kepada Allah. Sebab dalam diri Yesus itulah mereka mendengar panggilan Allah Bapa, walau vonis para pemuka agama Yahudi, dapat saja memberi kesan, seakan-akan Yesus tidak memiliki legitimasi ‘pemanggilan suci’ dari Allah. Namun, mereka tidak hanya meyakini akan dilontarkannya panggilan Allah, mereka bahkan berani, untuk mengungkapkannya, dengan “tanda-tanda dan sarana-sarana” (=sakramen), yang bagi umat Israel mengungkapkan keyakinan iman akan “didengarnya panggilan Allah”, sebagaimana telah dialami oleh Abraham, Ishak dan Yakub,- sampai pada Musa, Daud dan Salomon serta para nabi. Mereka minta dibaptis.
1 Ptr 2: 20b-25: melanjutkan langkah para Rasul, demikian pula umat, yang sudah dibaptis itu, dalam ayat-ayat tanggapan menunjukkan kesediaannya, untuk mengambil konsekuensi bersungguh-sungguh, bila mau mengimani Yesus. Hal itu mengikuti jejak Langkah Sang Kristus, yaitu menyerahkan diri seutuhnya kepada panggilan Allah, mewartakan Penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, secara habis-habisan.
Yoh. 10:1-10: Kesediaan mereka untuk melangkah seperti Tuhan Yesus Kristus itu, disebabkan karena umat, membuka telinga untuk mendengarkan panggilan Allah, melalui seruan Sang Gembala Utama, agar menyatu dalam Paguyuban Umat yang mengimani Allah Bapa, karena dorongan Roh Kudus; bukan sekedar karena hadiah mukjizat atau karunia apa pun.
REFLEKSI BAGI KITA: Hari Panggilan, adalah hari, ketika seluruh umat menyambut bisikan Roh (ingat percakapan Yesus dengan Nikodemus), yang menyuarakan panggilan Bapa, dalam seluruh peristiwa Yesus Kristus, dari awal sampai Wafat dan Kebangkitan-Nya (ingat narapidana, yang disalib bersama Yesus, yang merasa terpanggil ikut Yesus maupun semua saksi Kebangkitan Kristus). Suara panggilan itu dapat langsung disampaikan Allah Bapa, disuarakan Tuhan Yesus, disentuhkan Roh ke Telinga Batin manusia, maupun melalui Pewartaan Gereja dan para Pewartanya. Konteks panggilan Allah itu, dapat saja di kedalaman hati dan refleksi akalbudi serta karena sentuhan tindak langkah sesama, namun juga dapat melalui panggilan situasi dan kondisi suka-duka sesaat (Corona, kanker, dsbnya) maupun kesedihan dan kegembiraan perseorangan dan pesan keluarga maupun komunitas setempat; bahkan melalui jamahan-jamahan online sekalipun“Roh berhembus di mana Dia mau”.
Marilah kita berdoa: “Bukalah hati kami ya Tuhan, hambaMu mendengarkan Panggilan-Mu”.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
sumber : karyakepausanindonesia.org,  sumber gambar : pexels.com 
Berikutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »